Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Leni Aprilia, menjelaskan masih banyak anak yang baru mendapat penanganan setelah gangguan tidur maupun pendengaran berdampak pada prestasi belajar dan kemampuan komunikasi.
"Melalui model OSPAHS, berbagai faktor risiko dapat dievaluasi secara komprehensif dalam satu kunjungan. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan mampu mempercepat deteksi dini, meningkatkan ketepatan rujukan, sekaligus memberikan pelayanan yang lebih efektif bagi anak usia sekolah," katanya.
Menurutnya, konsep pelayanan terpadu tersebut juga memudahkan keluarga karena berbagai pemeriksaan yang saling berkaitan dapat dilakukan di satu lokasi tanpa harus berpindah ke sejumlah fasilitas kesehatan.
Program OSPAHS dikembangkan oleh Program Studi Ilmu Kesehatan THT-BKL FK UNS bersama sejumlah bidang keilmuan, di antaranya Neurologi, Ilmu Kesehatan Anak, Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Radiologi, Anestesiologi, serta Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
