GROBOGAN,iNewsBoyolali.id – Ratusan santri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kini mulai kembali beraktivitas seperti biasa setelah sempat mengalami keracunan massal akibat mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pantauan di lokasi, para santri tampak mengikuti kegiatan pondok dengan normal. Meski demikian, sejumlah santri yang sebelumnya menjadi korban keracunan mengaku masih merasakan trauma dan memilih mengonsumsi makanan yang dikelola serta dimasak sendiri oleh pihak pondok pesantren.
Suasana pondok pascakejadian keracunan massal terlihat kondusif. Sebanyak sekitar 1.500 santri putra dan putri mengikuti kegiatan sarapan bersama di aula masing-masing. Kondisi para santri tampak sehat dan bugar. Menu yang disajikan terlihat hangat dan higienis, hasil olahan dapur pondok pesantren.
Dalam sehari, para santri makan bersama sebanyak tiga kali, yakni pagi, siang, dan malam. Seluruh makanan dimasak oleh santri yang tergabung dalam tim dapur pondok. Setiap tim terdiri dari tiga hingga lima orang santri dengan pembagian tugas yang jelas.
Beberapa santri yang sempat dirawat akibat keracunan mengaku belum siap jika harus kembali mengonsumsi menu MBG dari luar pondok. Rahmat Hidayat dan Ahmad, santri kelas XI SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda, mengaku masih trauma setelah mengalami keracunan usai menyantap nasi kuning dan telur MBG. Keduanya menyatakan lebih nyaman mengonsumsi masakan pondok yang dikelola oleh sesama santri.
“Waktu itu sedang makan nasi kuning dari MBG, dan malamnya perut rasanya sakit dan diare. Dan waktu itu hanya dirawat di UKS saja dengan dibelikan obat diare. Alhamdulillah saat ini sudah membaik,”ujar Ahmad, siswa kelas 11 SMK Miftahul huda.
“Setelah keracunan itu kita jadi trauma, takut makan MBG lagi, takutnya itu tidak seteril dan higienis lagi. Jadi kebayang-bayang bagaimana kondis nasi yang sudah basi. Jadi besok-besok lagi makanannya dipastikan bersih dan sehatdulu jangan asal diantar ke kita,” keluh Rahmat Hidayat, santri Ponpes Miftahul Huda.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Lutfi Al Hakim, menjelaskan bahwa sebanyak 113 santri yang sempat dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan di Grobogan kini telah kembali ke pondok dan beraktivitas seperti sediakala.
Terkait kebutuhan makan santri, Lutfi Al Hakim menyebutkan biaya makan tiga kali sehari diambil dari iuran bulanan santri sebesar Rp500 ribu. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp180 ribu dialokasikan untuk operasional makan bergizi di pondok pesantren.
“Untuk makan santri sudah kita persiapkan tim pemasak dari santri sendiri yang sudah diajari memasak disini. Dan mengenai biaya makan, kita ambilkan dari iuran bulanan santri sebagian untuk biaya masak dan lainnya untuk operasional pendidikan,” jelas Lutfi AL Hakim.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
