GROBOGAN,iNewsBoyolali.id – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, terus meluas. Tak hanya siswa, sebanyak 16 wali murid dari SD Negeri Penadaran turut mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang oleh anak-anak mereka, Jumat (pekan lalu).
Para wali murid tersebut diketahui berasal dari SD Negeri 1, 2, dan 3 Penadaran. Mereka mengaku mengalami gejala mual, muntah, dan diare berulang setelah menyantap makanan dari SPPG Kwaron, Kecamatan Gubug. Hingga Selasa pagi, sebagian besar korban masih mengeluhkan kondisi tubuh yang lemas.
Meski mengalami gejala keracunan, para wali murid memilih tidak menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit maupun puskesmas. Mereka hanya mengandalkan pengobatan mandiri dengan membeli obat di warung.
Salah satu wali murid, Darti, warga Desa Penadaran, mengaku awalnya mengira keluhan yang dialaminya hanya masuk angin biasa. Namun kondisi memburuk hingga muntah dan diare tak kunjung berhenti.
“Saya kira Cuma masuk angin. Tapi setelah tahu banyak tetangga mengalami hal yang sama, baru sadar kalau ini keracunan makanan MBG yang dibawa anak saya dari sekolah,” ujar Darti.
Selain Darti, terdapat 15 wali murid lainnya yang mengalami gejala serupa. Meski kondisi fisik belum sepenuhnya pulih, beberapa siswa SD di Penadaran tetap nekat masuk sekolah karena khawatir tertinggal pelajaran.
Sementara itu, Kepala Desa Penadaran, Sholehaturodlo, menyampaikan bahwa total korban keracunan di tiga SD tersebut mencapai sekitar 150 siswa. Sebagian besar siswa hanya menjalani perawatan di rumah, namun beberapa di antaranya terpaksa dilarikan ke puskesmas karena kondisi tubuh yang menurun drastis.
“Kasus seperti ini sebenarnya sudah beberapa kali terjadi, namun baru kali ini terekspos luas. Kami minta pengelola SPPG lebih selektif dan ketat dalam pengawasan kesehatan makanan,” tegas Sholehaturodlo.
Ia juga berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG. Menurutnya, dana program tersebut sebaiknya dialihkan ke sektor yang dinilai lebih tepat sasaran.
“Kami berharap dana MBG bisa dialihkan untuk biaya pendidikan gratis bagi siswa tidak mampu, sehingga manfaatnya lebih terasa dan tidak membahayakan kesehatan,” pungkasnya.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
