GROBOGAN,iNewsBoyolali.id – Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Zaki Mandala Rifky (16), korban tewas dalam tragedi tawur sarung, tiba di rumah duka di Desa Termas, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Kamis petang. Kedatangan jenazah disambut haru oleh keluarga, kerabat, dan teman-teman sekolah korban yang datang untuk melayat dan memberikan doa terakhir.
Sari Wulan, ibu korban, tak kuasa menahan tangis saat jenazah anaknya diturunkan dari ambulans. Ia dipeluk anggota keluarga yang berusaha menenangkan suasana duka. Sejumlah teman sekolah korban yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama juga tampak hadir, menunjukkan rasa kehilangan atas sosok Zaki yang dikenal periang dan mudah bergaul.
Meski mengaku ikhlas, pihak keluarga meminta aparat kepolisian menindak tegas para pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut agar memberikan efek jera. Keluarga mengaku tidak menyangka peristiwa tawur sarung itu menjadi momen terakhir kebersamaan mereka dengan korban.
“ Saya sudah ikhlas dan saya serahkan sepenuhnya ke polisi saja, “ungkap Sari Wulan.
Teman sekolah korban, Hendri Setiawan, mengaku terkejut dan sedih atas kejadian tersebut. Ia mengatakan pertemuannya dengan Zaki pada sore hari sebelum kejadian menjadi pertemuan terakhir. Menurutnya, korban dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah berteman dengan siapa saja.
“ Kaget banget soalnya sore masih ketemu saya dan baru berapa jam sudah dapat ka ar duka. Ia orangnya asik selama di sekolah maupun di rumah. Kami berdoa semua Zaki diterima di sisi-Nya, “ ucap Hendri Setiawan.
Berdasarkan hasil autopsi, korban meninggal dunia akibat benturan benda keras di bagian tengkuk. Setelah disalatkan di masjid setempat, jenazah kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat.
Kasus ini bermula dari ajakan tawur sarung yang dikirim korban melalui pesan WhatsApp kepada teman-temannya untuk bertemu di lapangan sepak bola. Ajakan tersebut kemudian disambut oleh enam rekannya. Saat menjalani pemeriksaan di Polres Grobogan, para remaja tersebut mengaku aksi tawur sarung dilakukan hanya untuk iseng dan mengisi waktu selama Ramadan, tanpa motif dendam atau perselisihan.
Saat ini, keenam remaja yang terlibat masih menjalani pemeriksaan intensif oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Grobogan guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
