BLORA,iNewsBoyolali.id– Pabrik Gula (PG) Blora yang berlokasi di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menghadapi tantangan berat setelah produksi gula pada tahun 2025 mengalami penurunan akibat sejumlah kerusakan mesin pabrik.
PG Blora yang dikelola oleh PT Gendhis Multi Manis (PT GMM) selama ini menjadi salah satu industri pengolahan tebu yang berperan penting bagi petani tebu di Kabupaten Blora sejak mulai beroperasi pada 2014.
Pada musim giling 2025, PT GMM sebenarnya menargetkan dapat menyerap tebu sebanyak 400.000 ton dengan rendemen 7 persen selama 150 hari masa giling. Namun target tersebut tidak tercapai.
Berdasarkan data perusahaan, sepanjang 2025 PT GMM hanya mampu menggiling tebu sebanyak 219.774 ton dengan rendemen 6,03 persen. Dari proses tersebut dihasilkan Gula Kristal Putih sebanyak 12.138 ton.
Penurunan produksi ini terjadi akibat beberapa kali kerusakan mesin pabrik yang menyebabkan hilangnya kandungan gula pada tebu yang telah masuk proses pengolahan.
Kerusakan utama terjadi pada mesin boiler coal dan boiler bagasse yang mengalami gangguan secara bersamaan pada Mei dan Juni 2025.
Meski sempat dilakukan perbaikan, kerusakan kembali terjadi pada September 2025.
Akibatnya, pabrik memutuskan menghentikan proses giling lebih awal pada 24 September 2025 guna mencegah kerusakan yang lebih parah.
Kerusakan tersebut disebabkan oleh kebocoran pada pipa boiler, baik pada bagasse boiler maupun coal boiler.
Kebocoran itu menyebabkan nilai konduktivitas air boiler turun drastis sehingga mengganggu proses produksi.
Penghentian giling lebih awal juga berdampak pada petani tebu yang masih memiliki sisa tanaman yang belum ditebang.
Untuk membantu petani, PT GMM berupaya menjalin koordinasi dengan sejumlah pabrik gula lain agar tebu petani Blora tetap dapat digiling.
Beberapa pabrik yang didatangi di antaranya PG Lamongan milik PT Kebun Tebu Mas serta PG Trangkil milik PT Kebon Agung.
Selain itu, PT GMM juga memberikan layanan gratis berupa penggunaan crane dan jembatan timbang untuk membantu proses langsir tebu dari truk kecil ke truk tronton.
Memasuki tahun 2026, manajemen PT GMM tengah menyusun strategi perbaikan menyeluruh terhadap mesin pabrik.
Namun rencana tersebut belum dapat segera dilaksanakan karena kondisi keuangan perusahaan yang masih mengalami defisit.
Pelaksana Tugas Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengatakan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan para pemegang saham untuk mendapatkan dukungan perbaikan mesin.
“Saat ini PT GMM sudah melakukan komunikasi dengan Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera untuk meminta bantuan dalam perbaikan mesin,” ujarnya, Kamis (24/3/2026).
Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Blora serta berbagai pihak lainnya.
Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, mengungkapkan bahwa jajaran Pemerintah Kabupaten Blora bersama pimpinan DPRD, pengurus APTRI, Serikat Pekerja GMM, dan direksi perusahaan telah melakukan audiensi dengan Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, di Jakarta pada 21 Januari 2026.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
