Bupati Blora Bidik 295 Hektare Pertanian Organik, Produksi Beras Tembus 305 Ribu Ton

Heri Purnomo
Bupati Blora H. Arief Rohman, pamerkan beras organik 'Sehati' di forum Petani Nahdliyin di Semarang. Foto: iNews

SEMARANG, iNewsBoyolali.id – Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman mendorong pengembangan pertanian organik sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Blora bahkan ditargetkan menjadi salah satu daerah percontohan pertanian organik di Jawa Tengah.

 

Hal itu disampaikan Arief saat menjadi narasumber dalam Muktamar Petani Nahdliyyin yang digelar Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama LPP NU dan jaringan petani Nahdliyin di Pesantren Al-Itqon, Desa Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Senin (10/8/2026).

 

Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi petani Nahdliyin untuk membahas penguatan ekosistem pertanian dari sektor hulu hingga hilir. Kegiatan juga menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Muktamar ke-35 NU.

 

Dalam paparannya, Arief menyebut sektor pertanian memiliki peran strategis bagi Kabupaten Blora. Produksi Gabah Kering Giling (GKG) Blora pada 2025 tercatat mencapai 530.818 ton, naik 106.407 ton atau 25,07 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 424.411 ton.

 

Kenaikan tersebut turut didukung peningkatan produktivitas menjadi 50,98 kuintal per hektare, atau naik 0,96 kuintal per hektare dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Sejalan dengan itu, produksi beras Blora pada 2025 juga meningkat menjadi sekitar 305.252 ton, naik 61.190 ton atau 25,07 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai sekitar 244.062 ton.

 

Arief menilai capaian tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan pertanian organik secara lebih luas.

 

"Kami ingin Blora menjadi salah satu sentra pertanian organik di Jawa Tengah," kata Arief.

 

Menurutnya, pertanian organik bukan sekadar metode bercocok tanam, tetapi bagian dari upaya menjaga kualitas tanah, mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia, serta menyediakan pangan yang lebih sehat bagi masyarakat.

 

Pemkab Blora juga telah menjalin kerja sama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blora untuk mendorong pengembangan pertanian organik. Kerja sama tersebut ditandatangani pada 15 Juli 2025 di Gedung PWNU Jawa Tengah.

 

Sebagai langkah konkret, Arief mendorong setiap desa menyediakan sedikitnya satu hektare lahan bengkok untuk dijadikan lokasi percontohan pertanian organik.

 

"Kalau satu desa bisa menyediakan satu hektare, tentunya di Blora ini ada 295 desa/kelurahan yang bisa ada juga 295 hektare pertanian organik," ujarnya.

 

Pemkab Blora juga terus menjajaki kerja sama dengan sejumlah BUMN, termasuk Pertamina, untuk mendukung pendampingan dan pembinaan petani.

 

Arief berharap LPPNU dapat menjadi motor penggerak pertanian organik di tingkat desa. Kader NU yang bergerak di sektor pertanian juga diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelopor penerapan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

 

"Blora harus menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik," tegasnya.

 

Dalam kegiatan tersebut, Arief juga membawa produk Beras Organik Sehati, hasil produksi Rumah Produksi & Packing Beras Organik SEHATI yang berada di Dukuh Denguk, Desa Andongrejo, Kecamatan Blora.

 

Unit produksi tersebut dikelola Koperasi PCNU "Berkah Jagat Nusantara" dengan dukungan CSR Bank Jateng berupa mesin oven, rice milling, dan mesin packing.

 

Produk beras organik tersebut dinilai menjadi salah satu contoh bagaimana pertanian organik dapat dikembangkan tidak hanya dari sisi budidaya, tetapi juga melalui pengolahan dan pemasaran sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.

 

Sementara itu, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan bersama atas kondisi petani, khususnya warga NU yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.

 

Menurutnya, forum tersebut bukan untuk menjadi tandingan atau bentuk perlawanan terhadap pihak tertentu, melainkan wadah bagi petani Nahdliyin untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi, serta memperjuangkan kepentingan petani secara mandiri.

 

"Kegiatan ini adalah kegelisahan kita semua. Muktamar petani ini merupakan wadah petani-petani jamiyah NU yang berdaulat dan merdeka," ujarnya.

 

Forum tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi petani sekaligus mendorong lahirnya ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan, mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran hasil pertanian.

 

 

Editor : Tata Rahmanta

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network