Sudah Buta akibat Tumor, Warga Miskin Ini Malah Dicoret dari Bansos, Kini Hidup AndalkanTetangga
GROBOGAN, iNewsBoyolali.id – Nasib sangat memprihatinkan dialami Supriyati, warga Desa Tunggulrejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Perempuan 54 tahun yang mengalami kebutaan akibat tumor di kepala tersebut justru tidak lagi tercantum dalam daftar penerima bantuan sosial pemerintah.
Padahal, Supriyati sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga. Kini, ia tidak lagi mampu bekerja dan harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan bantuan keluarga maupun tetangga.
Kondisi ekonominya juga memprihatinkan. Supriyati harus membantu memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Sang ayah bahkan mengalami stroke. Kebutaan yang dialami Supriyati terjadi sekitar lima tahun lalu. Saat itu, kepalanya terbentur bodi bus dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Grobogan.
Setelah kejadian tersebut, Supriyati menjalani berbagai upaya pengobatan. Tabungan yang diperoleh dari hasil bekerja di Jakarta pun habis digunakan untuk biaya pengobatan. Namun, kondisi kesehatannya tidak kunjung membaik. Tumor di bagian kepalanya terus berkembang hingga akhirnya menyebabkan penglihatannya hilang.
Sejak kehilangan penglihatan, Supriyati tidak lagi mampu bekerja. Untuk berjalan dan melakukan berbagai aktivitas, ia harus dituntun oleh keluarga atau tetangga.
Sebelumnya, keluarga Supriyati sempat menerima Bantuan Langsung Tunai dari pemerintah desa sebanyak tiga kali. Namun, sekitar enam bulan terakhir, nama Supriyati bersama kedua orang tuanya tidak lagi tercantum dalam daftar penerima manfaat bantuan sosial pemerintah.
Keluarga mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan mereka dicoret dari daftar penerima bansos. Kondisi tersebut membuat keluarga semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka kini lebih banyak mengandalkan bantuan saudara serta kepedulian warga sekitar.
“Awalnya itu dapat bantuan dari desa tiga kali, yang pertama dapat enam ratus, kedua tiga ratus dan yang ketiga dapat tiga ratus ribu. Setelah itu sudah berhenti tidak dapat sama sekali. Katanya sih di coret. Lha saya ini sudah tidak bisa apa-apa kok dicoret tapi saya hanya bisa pasrah saja,” keluh Supriyati.
Keprihatinan terhadap kondisi keluarga Supriyati membuat sejumlah warga Desa Tunggulrejo berinisiatif memberikan bantuan secara swadaya.
“Alhamdulillah, saya dibantu warga ada yang ngasih makan, beras dan Gabah saat panen. Jadi selama ini saya hanya mengandalkan uluran tangan. Adik saya juga kasihan kehidupannya jadi saya juga tidak memaksa untukmembantu saya dan orang tua. Jadi kalau bantu semampunya saya terima,” jawabnya.
Muhammad Jamrowi, sesepuh Desa Tunggulrejo, mengatakan warga selama ini bergotong royong membantu keluarga Supriyati, mulai dari memberikan makanan hingga menyisihkan sebagian hasil panen.
“ Warga disini selalu membantu keluarga Supriyati, ada yang memberikan beras setelah panen dan ada juga yang memberikan makanan langsung. Dan ini yang paling memprihatinkan Dimana selama tiga bulan lebih tidak punya stok air karena sudah kering. Ada beberapa donator pribadi ikut bantu satu tangka air setiap air bersihnya habis,” ujan Muh Jamrowi.
Warga juga membantu memenuhi kebutuhan air bersih keluarga tersebut. Bahkan, sejumlah warga secara rutin mengirimkan air bersih setiap pekan karena sumber air di sekitar rumah Supriyati telah mengering.
Menurut warga, kondisi keluarga Supriyati dinilai sangat memprihatinkan sehingga pemerintah diharapkan kembali melakukan verifikasi terhadap data penerima bantuan sosial.
Masuk Kriteria Desil Enam
Keluarga dan tetangga Supriyati mengaku terkejut setelah memperoleh informasi mengenai kondisi data kesejahteraan keluarga tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak Kecamatan Gabus, Supriyati bersama kedua orang tuanya disebut masih masuk dalam kriteria desil enam.
“ Kemarin setelah viral ada petugas Kecamatan datang kesini dan mendata saya. Dan saya diminta untuk bersabar dan akan diusahakan untuk masuk dalam daftar lagi gitu dan juga akan dbantu pembuatan BPBJ gratis,” pungkasnya.
Warga berharap pemerintah dapat menjelaskan alasan penghapusan nama keluarga Supriyati dari daftar penerima bantuan sekaligus melakukan verifikasi ulang secara langsung ke lapangan. Hingga kini, keluarga Supriyati masih bertahan dengan mengandalkan bantuan saudara dan kepedulian para tetangga.
Mereka berharap pemerintah hadir memberikan perhatian dan memastikan bantuan sosial benar-benar diterima warga yang membutuhkan sesuai kondisi di lapangan.
Editor: Tata Rahmanta