Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tak Lagi PPMP, Dana Pensiun Perhutani Beralih ke PPIP, Ini Penjelasannya
Advertisement . Scroll to see content

Kekeringan Ekstrem Warga Harus Beli Tangki Rp200 Ribu, Perhutani Besama Pelajar TNI Polri Droping

Kamis, 10 September 2026 | 14:23 WIB
  • author Rustaman Nusantara
Kekeringan Ekstrem  Warga Harus Beli Tangki Rp200 Ribu, Perhutani Besama Pelajar TNI Polri Droping
Warga Kawasan Hutan Berebut Air Bersih dari Perhutani, Pelajar, TNI dan Polisi. (Foto:iNews)

GROBOGAN, iNewsBoyolali.id – Krisis air bersih akibat kekeringan di sejumlah desa kawasan hutan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, semakin parah. Sejumlah sumber air mulai dari sungai, sumur hingga mata air di kawasan hutan kini mengering.

Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Bahkan, untuk mendapatkan air bersih, warga terpaksa membeli air tangki dengan harga mencapai ratusan ribu rupiah.

Pemandangan memilukan terlihat di Desa Randurejo, Kecamatan Pulokulon. Puluhan warga langsung berlarian membawa jerigen dan botol mineral saat bantuan air bersih tiba. Mereka berebut mendapatkan air yang baru diturunkan dari tangki karena persediaan air di desa semakin menipis.

Sebanyak 30 tangki air bersih disalurkan Perhutani KPH Gundih bersama puluhan pelajar, TNI dan Polri. Bantuan tersebut didistribusikan ke 30 titik yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Pulokulon, Gabus dan Kradenan.

Wakil Administratur Perhutani KPH Gundih, Yulianto, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang telah mengalami krisis air bersih selama berbulan-bulan. Menurutnya, keterlibatan para pelajar juga diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap kondisi masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Kami Perhutani KPH Gundih sengaja menggandeng pelajar khususnya dan TNI polisi untuk ikut peduli terhadap warga yang kesusahan air bersih. Dalam sehari kami salurkan 30 tangki air bersih ke sejumlah titik yang membutuhkan,” ujar Yulianto.

Sementara itu, Sugito, warga Desa Randurejo, mengaku pasrah menghadapi kekeringan yang semakin ekstrem. Krisis air disebut telah berlangsung sekitar empat bulan dan kini kondisinya semakin parah.

“ Kondisi saat ini memang sudah tidak bisa mendapatkan air bersih di sekitar desa, jadi kita pasrah dan memilih beli pertangki yang berisi lima ribu liter seharga tujuh puluh delapan sampai sembilan puluh  ribu rupiah. Kadang beli sampai sepuluh ribu liter untuk beberapa hari,” jelasnya.

Hampir seluruh sumber air di sungai maupun sumur telah mengering. Warga bahkan harus berjalan menuju dasar sungai yang mengering hingga hampir 10 meter untuk mencari sisa sumber air.

“ Kalau cari air harus berjalan jauh itupun harus ngantri sehari dua hari untuk bisa dapatkan satu jerigen air,” tandasnya.

Editor: Tata Rahmanta

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut