YOGYAKARTA, iNewsboyolali.id - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY menyoroti penataan dan pembangunan kawasan Sumbu Filosofi yang belum maksimal. pengembangan kawasan ini harus bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya pada orientasi pengembangan budaya.
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto mengatakan, dari hasil riset dan data yang dihimpun, terdapat catatan kritis terkait proporsi penganggaran pembangunan Sumbu Filosofi selama periode 2020 hingga 2025. Alokasi anggaran dinilai masih timpang dan terkonsentrasi di zona tertentu saja.
"Dari alokasi anggaran yang ada di tahun 2025, 28,5 persen itu dialokasikan di zona inti, kemudian 71,5 persen itu di zona penyangga. Sementara di zona pengembangan nol persen," ujar Eko Suwanto, Selasa (3/11/2026).
Sumbu Filosofi Yogyakarta mencakup 9 kecamatan atau kemantren dan 20 kelurahan. Wilayah tersebut meliputi delapan kemantren di Kota Yogyakarta (Keraton, Mantrijeron, Mergangsan, Gondomanan, Ngampilan, Danurejan, Gedongtengen, dan Jetis) serta satu kapanewon di Kabupaten Bantul, yakni Kapanewon Sewon (Kalurahan Bangunharjo dan Panggungharjo).
"Sisi utara ini batasnya di Jalan Sardjito, ring road selatan di sisi selatan, Sungai Code di sisi timur, hingga Sungai Winongo di sisi barat," katanya.
Pemda DIY harus serius terhadap zona pengembangan yang selama bertahun-tahun minim tersentuh pembangunan. wilayah ini seperti di pinggir Sungai Code, Sungai Winongo menuju Malioboro, Jetis, hingga Bangunharjo dan Panggungharjo yang belum berdampak signifikan.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
