Kondisi semakin memprihatinkan karena dari sepanjang aliran Sungai Ketro, kini disebut hanya tersisa satu titik resapan yang masih mengeluarkan air.
Sumber air tersebut langsung menjadi rebutan warga. Jerigen dan botol mineral milik warga bahkan telah mengantre sejak sekitar sepekan terakhir.
Untuk mendapatkan satu jerigen air, warga harus menunggu hingga dua atau tiga hari. Dalam waktu satu pekan, seorang warga hanya bisa memperoleh sekitar dua hingga tiga jerigen air.
Air yang tersisa pun sangat terbatas. Ketinggian genangan di titik resapan tersebut kini hanya sekitar tiga sentimeter.
Kondisi ini membuat warga khawatir sumber air terakhir tersebut juga segera mengering, sementara kebutuhan air bersih terus meningkat.
Kekeringan yang melanda Desa Ketro menjadi gambaran beratnya dampak musim kemarau bagi warga yang menggantungkan kebutuhan air dari sungai dan sumber-sumber alami.
Warga berharap bantuan air bersih dapat terus disalurkan hingga sumber air kembali tersedia dan kondisi kekeringan berakhir.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
