Ironis! Rela Tidak Bekerja, Warga Grobogan Gali Sungai 1 Km Tak Kunjung Temukan Air

Rustaman Nusantara
Warga Desa ketro, karangrayung, Grobogan, Berburu Air di Dasar Sungai dari Satu Titik Ke Titik Lain, Namun Tidak Menemukan SUmber Air. Foto;iNews

GROBOGAN, iNewsBoyolali.idKekeringan ekstrem melanda puluhan desa di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kondisi paling memprihatinkan terjadi di Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, di mana sungai yang menjadi salah satu sumber air warga kini mengering.

Tak menyerah, warga berulang kali menggali dasar sungai untuk mencari titik resapan air. Bahkan, pencarian dilakukan hingga hampir satu kilometer di sepanjang aliran sungai.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Tidak ada satu pun titik resapan air yang ditemukan.

Lubang-lubang yang sebelumnya menjadi tempat warga mengambil air kini juga mengering. Kondisi ini membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi hingga mencuci.

Bagi warga yang masih memiliki uang, membeli air bersih menjadi satu-satunya pilihan. Untuk mendapatkan 1.000 liter air, mereka harus mengeluarkan uang sekitar Rp150 ribu.

Ironisnya, air sebanyak itu hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga selama tiga hingga lima hari.

Sementara warga yang tidak memiliki uang untuk membeli air terpaksa mengandalkan bantuan dari tetangga maupun relawan.

Salah satu warga Desa Ketro, Supardi, mengaku hampir setiap hari harus mencangkul dasar sungai untuk mencari sumber air.

Ia berpindah dari satu titik ke titik lainnya dengan harapan menemukan resapan air yang masih tersisa. Namun, hingga pencarian dilakukan sepanjang hampir satu kilometer, air yang diharapkan tak kunjung muncul.

Menurut Supardi, kekeringan ekstrem telah berlangsung sekitar satu bulan. Kondisi tersebut membuat dirinya tidak bisa bekerja seperti biasa karena waktunya tersita untuk mencari air bagi kebutuhan keluarganya.

"Kalau tidak mencari air, keluarga tidak bisa mandi dan mencuci," ujar Supardi.

Kondisi semakin memprihatinkan karena dari sepanjang aliran Sungai Ketro, kini disebut hanya tersisa satu titik resapan yang masih mengeluarkan air.

Sumber air tersebut langsung menjadi rebutan warga. Jerigen dan botol mineral milik warga bahkan telah mengantre sejak sekitar sepekan terakhir.

Untuk mendapatkan satu jerigen air, warga harus menunggu hingga dua atau tiga hari. Dalam waktu satu pekan, seorang warga hanya bisa memperoleh sekitar dua hingga tiga jerigen air.

Air yang tersisa pun sangat terbatas. Ketinggian genangan di titik resapan tersebut kini hanya sekitar tiga sentimeter.

Kondisi ini membuat warga khawatir sumber air terakhir tersebut juga segera mengering, sementara kebutuhan air bersih terus meningkat.

Kekeringan yang melanda Desa Ketro menjadi gambaran beratnya dampak musim kemarau bagi warga yang menggantungkan kebutuhan air dari sungai dan sumber-sumber alami.

Warga berharap bantuan air bersih dapat terus disalurkan hingga sumber air kembali tersedia dan kondisi kekeringan berakhir.

Editor : Tata Rahmanta

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network