Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 14 Hari Dicari, Jenazah Korban KM Virgo Asal Boyolali Akhirnya Dipulangkan
Advertisement . Scroll to see content

Waduk Cengklik Boyolali Surut Lebih dari 50 Persen, Petani Ikan Terancam Gagal Panen

Jum'at, 06 November 2026 | 15:47 WIB
  • author Tata Rahmanta
Waduk Cengklik Boyolali Surut Lebih dari 50 Persen, Petani Ikan Terancam Gagal Panen
Usaha budidaya ikan air tawar menggunakan keramba jaring apung (KJA).Waduk Cengklik di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali Kamis (5/11/2026). Foto: Istimewa

BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Kemarau panjang membuat debit air Waduk Cengklik, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyusut drastis hingga lebih dari 50 persen. Kondisi ini mengancam keberlangsungan usaha budidaya ikan air tawar menggunakan keramba jaring apung (KJA). Petani khawatir mengalami gagal panen akibat menurunnya kualitas air hingga ancaman fenomena upwelling yang bisa menyebabkan kematian massal ikan.

Dampak kekeringan terlihat jelas di kawasan Waduk Cengklik, Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Sejumlah bagian waduk yang sebelumnya terendam kini mengering. Dasar waduk tampak berupa tanah retak, sementara permukaan air menyusut dan hanya menyisakan aliran menyerupai sungai kecil.

Menyusutnya genangan air juga memaksa sejumlah petani memindahkan keramba ke bagian waduk yang masih memiliki cukup air.

Salah seorang petani ikan keramba jaring apung, Supriyanto, mengaku cemas menghadapi kondisi tersebut. Menurutnya, penurunan debit air berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan budidaya dan pertumbuhan ikan.

"Kalau kondisi normal, pemberian pakan bisa dua kali sehari atau lebih. Namun, sekarang kami hanya berani memberi pakan sekali sehari karena kondisi air waduk semakin menyusut," ujarnya kepada wartawan pada Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, penurunan debit air juga berdampak terhadap pertumbuhan ikan. Selain harus mengurangi pakan, petani khawatir ikan tidak bisa tumbuh optimal sehingga hasil panen berkurang.

"Yang kami khawatirkan bukan hanya pertumbuhan ikan yang lambat. Saat panen nanti hasilnya juga bisa jauh berkurang karena kondisi seperti ini," katanya.

Ia juga mengkhawatirkan perubahan cuaca ekstrem dari musim kemarau ke penghujan yang berpotensi memicu fenomena upwelling.

"Kalau terjadi upwelling, dampaknya bisa sangat fatal. Ikan bisa mati massal. Kami berharap hujan segera turun, tetapi jangan sampai perubahan cuaca justru memicu upwelling," tuturnya.

Supriyanto berharap hujan segera turun agar debit air waduk kembali meningkat. Namun, dia juga mengkhawatirkan perubahan cuaca yang terlalu drastis justru memicu kematian ikan di keramba.

Editor: Tata Rahmanta

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut