Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ponpes di Boyolali Berencana Setop Terima MBG
Advertisement . Scroll to see content

Debit Air Susut 50 Persen, Dasar Waduk Cengklik Boyolali Jadi Lahan Pertanian

Selasa, 29 September 2026 | 09:41 WIB
  • author Tata Rahmanta
Debit Air Susut 50 Persen, Dasar Waduk Cengklik Boyolali Jadi Lahan Pertanian
Warga menanam padi di lahan yang muncul akibat surutnya air Waduk Cengklik, Boyolali, Senin (28/9/2026). Foto: iNewsBoyolali.id

BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Musim kemarau membuat debit air Waduk Cengklik di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyusut hingga sekitar 50 persen.

Kondisi tersebut dimanfaatkan warga untuk mengolah lahan yang sebelumnya terendam air menjadi area pertanian. Sejumlah warga menanam padi, jagung, kacang-kacangan hingga berbagai jenis palawija.

Penurunan elevasi air Waduk Cengklik telah terjadi selama kurang lebih lima bulan. Saat air menyusut, sejumlah bagian tepian waduk mulai mengering dan tanah terlihat merekah.

Perahu nelayan keramba yang biasanya berada di tepian waduk juga tampak bersandar di area yang mulai mengering. Di beberapa titik, ikan-ikan kecil ditemukan mati akibat berkurangnya volume air.

Warga menyebut penyusutan air berlangsung secara bertahap. Kini, genangan air lebih banyak tersisa di bagian tengah waduk, sedangkan sejumlah area lainnya telah berubah menjadi lahan kering.

"Ya tinggal yang itu, yang di utara pulau itu tinggal sedikit airnya. Surutnya ini paling ya tinggal sepertiga paling," kata Suparno pada Senin (28/9/2026) siang.

Lahan yang muncul akibat surutnya air waduk kemudian dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Bagi mereka, kondisi tersebut bukan hal baru karena lahan serupa kembali dapat digunakan setiap kali musim kemarau berlangsung cukup panjang.

Salah satunya dilakukan Yati. Selama musim kemarau, dia bersama warga lainnya menanam padi di lahan pinggir waduk yang mengering.

Menurut Yati, masa tanam berlangsung sekitar tiga bulan. Jika kondisi air memungkinkan, lahan tersebut bahkan dapat dimanfaatkan untuk dua kali tanam dan panen dalam setahun.

"Ya sekitar tiga bulanan di kemarau ini. Dalam setahun bisa dua kali tanam, dua kali panen. Kalau air naik ya tidak apa-apa, nanti metiknya pakai rakit," ujar Yati.

Editor: Tata Rahmanta

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut