Kemarau Panjang Ancam Pasokan Air Boyolali, PUDAM Siapkan Skema Gilir Aliran untuk Ribuan Pelanggan
BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – PUDAM Tirta Ampera Boyolali mengingatkan pelanggan untuk mewaspadai potensi penggiliran distribusi air bersih apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang hingga awal 2027.
Kondisi tersebut dipicu menurunnya debit sejumlah sumber air baku yang menjadi penopang layanan air bersih di Kabupaten Boyolali.
Direktur Utama PUDAM Tirta Ampera Boyolali, Iwan Marwanto, mengatakan sekitar 20 hingga 25 persen pelanggan berpotensi terdampak apabila hujan tidak kunjung turun hingga Januari 2027. Dalam kondisi tersebut, distribusi air akan dilakukan secara bergilir agar pelayanan tetap dapat menjangkau seluruh pelanggan.
"Kalau sampai Januari tidak hujan, ya 20-25 persen pelanggan harus siap-siap digilir. Yang biasanya mengalir setiap hari, bisa menjadi dua hari sekali," ujar Iwan, Selasa (21/7/2026).
Menurut Iwan, hingga saat ini penggiliran belum diterapkan secara menyeluruh. Pihaknya masih melakukan rekayasa jaringan distribusi untuk mengimbangi penurunan debit air di sejumlah sumber sehingga kontinuitas layanan tetap terjaga.
"Kontinuitas aliran akan tetap kita jaga. Cuma memang ada beberapa daerah yang pengalirannya akan digilir," katanya.
Ia menjelaskan, musim kemarau selalu menjadi tantangan bagi perusahaan karena berpengaruh langsung terhadap ketersediaan air baku. Meski demikian, PUDAM menargetkan jumlah pelanggan yang terdampak tahun ini tidak lebih dari 25 hingga 30 persen, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sempat mencapai sekitar 40 persen.
"Kita sekarang sedang usahakan agar kontinuitas itu tetap terjaga, walaupun tidak bisa 100 persen," ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, PUDAM mengalihkan pasokan dari sumber air yang debitnya masih mencukupi ke wilayah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air.
"Ada sumber air yang berlebih, ini sedang kita usahakan dan rekayasa alirannya supaya bisa menyuplai daerah yang sumber air bakunya terpengaruh kemarau," jelas Iwan.
Saat ini, Kecamatan Ampel menjadi salah satu wilayah yang telah menerapkan sistem penggiliran aliran karena memiliki debit sumber air yang terbatas dan belum didukung jalur distribusi alternatif.
Selain itu, PUDAM juga terus memantau kondisi embung sebagai sumber air permukaan. Embung Watu Gajah di Kecamatan Cepogo diperkirakan akan mengering pada September 2026, sedangkan Embung Melikan diprediksi habis pada Oktober hingga November 2026.
Meski demikian, Iwan memastikan perusahaan telah menyiapkan sumber air dan skenario cadangan sehingga penghentian operasional embung tidak akan mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
"Tapi kita sudah mempersiapkan rencana cadangan untuk mengatasi penutupan embung tersebut, jadi aman," tegasnya.
Secara umum, pasokan air bersih PUDAM Tirta Ampera diperkirakan masih aman hingga Desember 2026. Namun apabila kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan dan hujan belum turun hingga awal 2027, skema penggiliran aliran air akan diberlakukan lebih luas.
Saat ini PUDAM Tirta Ampera Boyolali melayani sekitar 57.000 pelanggan aktif dari total 70.000 sambungan rumah (SR). Berbagai upaya terus dilakukan agar pelayanan air bersih tetap berjalan optimal dan dampak kemarau panjang terhadap masyarakat dapat ditekan seminimal mungkin.
Editor: Tata Rahmanta