3 Bulan Andalkan Air Sungai Keruh dan Bau Bacin, Warga Berebut Bantuan Dua Tangki Air Bersih BPBD
GROBOGAN,iNewsBoyolali.id — Krisis air bersih yang melanda Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, selama tiga bulan terakhir memaksa warga bertahan dengan kondisi memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga bahkan terpaksa mengambil air dari sungai yang mengering dan kondisinya kotor serta berbau.
Situasi semakin memanas ketika dua tangki bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan tiba di desa tersebut. Puluhan warga, mulai dari ibu-ibu hingga lansia, langsung berlari membawa ember, jeriken, dan galon untuk mendapatkan air.
Di tengah antrean, sejumlah warga sempat terlibat cekcok lantaran saling berebut air. Warga yang rumahnya berada cukup jauh dari lokasi droping juga mendatangi lokasi dan memprotes petugas serta pemerintah desa karena merasa pembagian air tidak merata.
Dua tangki air tersebut dibagi ke dua titik dalam satu desa. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, seluruh air bersih ludes diserbu warga. Warga mengaku bantuan tersebut menjadi air bersih pertama yang mereka terima sejak mengalami kekeringan tiga bulan terakhir.
Kondisi ini membuat warga harus mencari sumber air alternatif. Sukes, warga Desa Ketro, setiap hari turun ke dasar sungai yang mulai mengering untuk mendapatkan air.
“ Sudah tiga bulan tidak pernah ada bantuan air bersih. Pemerintah terutama desa harusnya meringankan beban warganya. Ini air PAM sudah tidak mengali sejak tia bulan dan kita hanya mengandalkan air sungai keruh dan bau,” jelas Sukesi.
Warga setiap kali air resapanmengering selalu berpindah tempat menggali lubang kecil di sekitar genangan air untuk menunggu air resapan keluar. Meski tampak lebih jernih, air tersebut masih berbau dan dinilai sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Suyani, mengaku sangat menjerit batinnya karena selama ini harus mandi, mencuci menggunakan air yang sudah bau meski terlihat jernih.
“ Bagaimana lagi tidak ada pilihan lain, dan airnya bau bacin dan sering bikin gatal, tapi terpaksaa gunakan itu. Kalua air gallon kita pakai untukmencuci atau mandi yang sangat disayangkan uangnya. Sehari itu kita bisa bolak balik ke Sungai untuk mengatrikan herigen dulu, kalua sudah ada air stinggi lima sampai sepuluh sentimeter baru kita ambil pelan-pelan, ” keluh Suyani.
Dalam sehari, warga bisa lebih dari dua kali turun ke sungai. Mereka bahkan harus mengantrekan galon atau jeriken di sekitar lubang resapan sambil menunggu air kembali terkumpul. Air yang dibawa pulang biasanya diendapkan semalaman agar kotoran mengendap dan bau sedikit berkurang. Untuk kebutuhan memasak, makan, dan minum, warga memilih membeli air isi ulang.
Berdasarkan data BPBD Grobogan, hingga saat ini kekeringan telah berdampak pada 46 desa yang tersebar di 19 kecamatan. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring musim kemarau. BPBD Grobogan menyatakan akan terus memantau wilayah yang mengalami kekeringan dan melakukan dropping air bersih bagi desa-desa yang membutuhkan.
Editor : Tata Rahmanta