Penelitian UNS: Kesenjangan Gender dalam Pendapatan Online Terjadi di Berbagai Negara
SOLO, iNewsBoyolali.id - Hasil penelitian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo bersama dua perguruan tinggi dari luar negeri menunjukkan fakta tentang kesenjangan gender dalam memperoleh pendapatan secara daring di berbagai negara. Perempuan memiliki peluang lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk memperoleh penghasilan melalui platform digital.
Temuan dihasilkan melalui penelitian kolaboratif antara UNS, Indonesia; Paris School of Business, Prancis; dan VNU University of Economics and Business, Vietnam National University, Vietnam. Tim peneliti terdiri atas Dr. Ibrahim Fatwa Wijaya, Dr. Budi Wahyono, dan Dr. Subroto Rapih dari UNS, Dr. Whelsy Boungou dari Paris School of Business, serta Dr. Thai Hong Le dari VNU University of Economics and Business. Penelitian ini menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi internasional dalam menghasilkan bukti ilmiah untuk menjawab tantangan pembangunan global.
"Perkembangan ekonomi digital selama beberapa tahun terakhir, telah membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui berbagai platform digital. Fleksibilitas waktu dan tempat kerja yang ditawarkan ekonomi digital, bahkan kerap dipandang sebagai solusi untuk memperluas partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam memperoleh pendapatan secara daring masih terjadi di berbagai negara," kata salah satu peneliti, Dr. Budi Wahyono melalui keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Dikatakannya, penelitian menggunakan data Global Findex 2025 yang mencakup 50.717 responden dari 74 negara. Data berskala global ini memungkinkan para peneliti membandingkan peluang masyarakat dalam memperoleh penghasilan melalui aplikasi atau situs web digital di berbagai negara dengan karakteristik ekonomi dan sosial yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki peluang yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk memperoleh penghasilan melalui platform digital. Bahkan setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, usia, tingkat pendapatan, kepemilikan rekening keuangan, serta akses terhadap telepon seluler, kesenjangan tersebut tetap ditemukan.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa perkembangan teknologi digital belum sepenuhnya menciptakan kesempatan ekonomi yang setara bagi semua kelompok masyarakat. Selama ini, digitalisasi sering dipandang sebagai instrumen yang mampu menghapus berbagai hambatan dalam dunia kerja karena memungkinkan seseorang bekerja dari mana saja dan kapan saja.
"Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa kemajuan teknologi saja belum cukup untuk menghilangkan ketimpangan yang telah lama mengakar," katanya.
Lebih lanjut dikatakan, penelitian ini juga menemukan bahwa kesenjangan tidak banyak dipengaruhi oleh kondisi makro suatu negara. Negara dengan tingkat pembangunan ekonomi yang lebih tinggi maupun negara yang memiliki regulasi yang lebih mendukung kesetaraan gender, ternyata belum tentu mampu menghilangkan kesenjangan partisipasi perempuan dalam memperoleh pendapatan secara daring.
Dengan kata lain, pembangunan ekonomi dan penyediaan infrastruktur digital memang penting, tetapi belum cukup untuk menjamin kesempatan ekonomi digital yang benar-benar inklusif. Untuk memastikan keandalan hasil penelitian, tim peneliti juga melakukan berbagai pengujian statistik lanjutan.
Seluruh pengujian tersebut menunjukkan hasil yang konsisten, sehingga memperkuat kesimpulan bahwa kesenjangan gender dalam memperoleh pendapatan melalui platform digital merupakan fenomena yang nyata dan tidak muncul secara kebetulan.
Editor : Tata Rahmanta