BOYOLALI,iNewsBoyolali.id – Musim kemarau yang berlangsung selama dua bulan terakhir mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sumur-sumur swadaya milik warga mengering sehingga masyarakat di sejumlah wilayah kini bergantung pada bantuan air bersih yang datang setiap dua hingga tiga hari sekali.
Salah satu wilayah yang terdampak berada di Dukuh Watu Tirang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel. Sumur pompa swadaya sedalam sekitar lima meter yang selama ini menjadi sumber air warga mengalami penurunan debit hingga sekitar 80 persen dalam empat bulan terakhir dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian.
Setiap bantuan air bersih datang, puluhan warga langsung mengantre sambil membawa ember, galon, hingga gentong. Pada Rabu (5/8/2026), Polsek Ampel menyalurkan tiga tangki air bersih untuk sekitar 40 kepala keluarga di dukuh tersebut.
Salah seorang warga, Nining, mengatakan krisis air sudah dirasakan hampir dua bulan. Saat bantuan belum datang, warga terpaksa membeli air bersih seharga Rp120.000 per tangki.
"Kalau musim kemarau air sumur memang berkurang. Kalau kurang ya terpaksa beli air tangki. Harganya Rp120.000 per tangki dan diprioritaskan untuk kebutuhan dapur," ujarnya.
Tak hanya warga di sekitar lokasi distribusi, warga yang tinggal di kawasan perbukitan juga turun membawa berbagai wadah untuk mendapatkan air bersih. Mereka menghemat penggunaan air, bahkan sebagian mengaku hanya mandi dua hari sekali agar persediaan tetap mencukupi.
Perangkat Desa Sidomulyo, Joko Krisyanto, mengatakan sumber air yang tersisa kini hanya mampu mengalir setiap dua hari sekali. Namun debitnya terus menurun sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh warga.
"Air masih bisa dialirkan setiap dua hari sekali, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga karena sumber air terus berkurang akibat kemarau. Kami mengimbau warga berhemat air dan berkoordinasi dengan BPBD untuk penyaluran bantuan air bersih," katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan dampak kekeringan terus meluas. Hingga kini sedikitnya sembilan kecamatan terdampak, di antaranya Wonosegoro, Wonosamodro, Selo, Kemusu, Tamansari, Juwangi, serta sejumlah wilayah lain yang mengalami penurunan debit mata air.
BPBD Boyolali telah mendistribusikan sekitar 200.000 liter air bersih kepada warga terdampak dan memastikan bantuan akan terus disalurkan sesuai kebutuhan hingga kondisi kembali normal.
"Kami memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat sampai kondisi kembali normal," ujar Ari Wahyu Prabowo.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
