Kisah Unik HUT RI di Grobogan, Warga Upacara di Sungai Kering lalu Berburu Air
GROBOGAN, iNewsBoyolali.id – Pemandangan unik terjadi saat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Pandanharum, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sejumlah emak-emak dan lansia menggelar upacara kemerdekaan di dasar sungai yang mengering akibat kemarau panjang.
Bendera Merah Putih ditancapkan di tengah dasar sungai. Warga kemudian berdiri tegak memberikan penghormatan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat.
“Ini spontan tadi adakan upacara di sungai untuk ikut merayakan saja. Karena keseharian kita cari air dan cuci atau mandi disini juga,” ujar siti Hidayatul Maghfiroh, warga Pandanharum.
Namun, setelah upacara selesai, suasana kembali seperti aktivitas sehari-hari. Warga tetap berada di dasar sungai untuk mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga, mandi, hingga mengais air yang masih tersisa.
Kondisi tersebut terpaksa dilakukan karena kekeringan telah melanda wilayah mereka selama sekitar tiga bulan. Sejumlah sumur dan sumber air di sekitar permukiman warga mengering.

Siti Hidayatul Maghfiroh, salah seorang warga, mengatakan air sungai yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sebenarnya kotor dan tidak layak dikonsumsi. Untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan hingga sekitar lima kilometer menuju sumber air.
“ kalau mau dapat air bersih harus jalan sejauh kima kilometer. Dan isi air mengalir kecil baru seminggu lalu jadi bisa kita manfaatkan,” ucapnya.
Dalam sehari, warga bahkan bisa beberapa kali turun ke sungai. Mereka harus menunggu genangan air terkumpul dan kembali terlihat lebih jernih sebelum mengambilnya untuk mandi dan mencuci.
Bagi warga, upacara di dasar sungai menjadi cara sederhana untuk tetap memaknai kemerdekaan di tengah kesulitan akibat kekeringan.
“Kebetulan bersamaan dengan peringatan HUT RI,jadi kita rayakan di sungai ini sekalian mencuci, ambil air dan ada juga yang mandi,” pungkasnya.
Salah satunya Mbah Sarmini, lansia berusia sekitar 65 tahun. Ia masih harus menuruni tebing sungai setinggi sekitar 20 meter demi mendapatkan air.
“ sudah habis air di sumur rumah jadi ya ngapa-ngapain di sungai ini. Tadi saya mandi sekalian biar tidak bolak balik setelah mencuci,” serunya.

Untuk mencapai dasar sungai, Mbah Sarmini bahkan harus berjalan merangkak sambil berpegangan pada tebing agar tidak terjatuh. Air sungai yang keruh tersebut kemudian digunakan untuk mandi dan mencuci setiap hari.
Sementara itu, Tatik, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus membeli air mineral isi ulang untuk kebutuhan memasak dan minum. Empat galon air isi ulang bisa habis dalam waktu empat hingga enam hari, tergantung kebutuhan keluarga.
“kalau beli air toren atau tangki seharga tujuh puluh lima ribu, sayangkan kalau dipakai beli jadi bisa kita gunakan untuk keperluan lainnya,”tegas Tatik.
Mayoritas warga yang bekerja serabutan mengaku kesulitan jika harus terus membeli air tangki. Harga satu tangki air mencapai sekitar Rp75 ribu.
“ Sudah tiga bulan kekeringan belum dapat bantuan air bersih sama sekali dari pemerintah,” keluhnya.
Mereka berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan air bersih sehingga warga tidak lagi terpaksa menggunakan air sungai yang kotor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah perayaan kemerdekaan, perjuangan warga Pandanharum untuk mendapatkan air bersih menjadi gambaran bahwa bagi sebagian masyarakat, kemerdekaan juga berarti terbebas dari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Editor : Tata Rahmanta