Unik! Warga Lereng Merapi Boyolali Arak Sapi Berkalung Ketupat Saat Syawalan
BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Tradisi unik masih terjaga di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Ratusan warga setempat menggelar arak-arakan sapi dan kambing keliling kampung sebagai bagian dari perayaan syawalan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan diawali dengan kenduri di jalan kampung yang diikuti warga secara gotong royong. Berbagai hidangan khas dibawa dan didoakan bersama sebagai ungkapan rasa syukur sebelum memasuki prosesi utama.
Usai doa bersama, warga kemudian mengarak sapi dan kambing mengelilingi desa. Hewan ternak tersebut dihias dengan kalung ketupat dan diberi wewangian, menciptakan suasana meriah sekaligus sarat makna kebersamaan.
Salah satu warga, Warjuli, mengatakan tradisi ini telah dilakukan sejak lama dan tetap dilestarikan hingga kini.
“Dari pagi kami kenduri bersama, lalu sapi dikalungi ketupat dan diberi wewangian sebelum diarak keliling kampung,” ujarnya.
Dia menambahkan, hewan ternak yang telah dihias kemudian dipertemukan dengan ternak lainnya sebagai simbol silaturahmi sekaligus harapan agar ternak tetap sehat dan berkembang biak.
“Supaya ternak sehat, rukun, dan bisa berkembang banyak,” katanya.
Tokoh masyarakat setempat, Marjono, menjelaskan tradisi ini merupakan wujud syukur warga atas rezeki yang diperoleh, khususnya dari sektor peternakan dan pertanian.
“Dimulai dari memandikan ternak, memberi wewangian, mengalungkan ketupat, lalu kenduri dan diarak keliling kampung. Ini bentuk rasa syukur warga,” jelasnya.
Dia juga mengungkapkan, ketupat dalam tradisi tersebut memiliki filosofi Jawa “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, yang mencerminkan sikap rendah hati dan saling memaafkan.
Selain nilai religius dan budaya, tradisi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar daerah yang ingin menyaksikan kearifan lokal khas lereng Merapi.
Warga berharap tradisi arak-arakan ternak ini tetap dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Desa Sruni.
Editor : Tata Rahmanta