get app
inews
Aa Text
Read Next : Ramadan Bawa Berkah, Penjualan Baju Muslim dan Kurma di Blora Naik 50 Persen

Usai Produksi 2025 Anjlok Akibat Kerusakan Mesin, Pabrik Gula Blora Berupaya Bangkit

Sabtu, 14 Maret 2026 | 06:10 WIB
header img
Kerusakan Mesin Tekan Produksi 2025, Pabrik Gula Blora Lakukan Upaya Pemulihan. (Foto: Heri Purnomo/iNews).

BLORA,iNewsBoyolali.idPabrik Gula (PG) Blora yang berlokasi di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menghadapi tantangan berat setelah produksi gula pada tahun 2025 mengalami penurunan akibat sejumlah kerusakan mesin pabrik.

PG Blora yang dikelola oleh PT Gendhis Multi Manis (PT GMM) selama ini menjadi salah satu industri pengolahan tebu yang berperan penting bagi petani tebu di Kabupaten Blora sejak mulai beroperasi pada 2014.

Pada musim giling 2025, PT GMM sebenarnya menargetkan dapat menyerap tebu sebanyak 400.000 ton dengan rendemen 7 persen selama 150 hari masa giling. Namun target tersebut tidak tercapai.

Berdasarkan data perusahaan, sepanjang 2025 PT GMM hanya mampu menggiling tebu sebanyak 219.774 ton dengan rendemen 6,03 persen. Dari proses tersebut dihasilkan Gula Kristal Putih sebanyak 12.138 ton.

Penurunan produksi ini terjadi akibat beberapa kali kerusakan mesin pabrik yang menyebabkan hilangnya kandungan gula pada tebu yang telah masuk proses pengolahan.

Kerusakan utama terjadi pada mesin boiler coal dan boiler bagasse yang mengalami gangguan secara bersamaan pada Mei dan Juni 2025.

Meski sempat dilakukan perbaikan, kerusakan kembali terjadi pada September 2025.

Akibatnya, pabrik memutuskan menghentikan proses giling lebih awal pada 24 September 2025 guna mencegah kerusakan yang lebih parah.

Kerusakan tersebut disebabkan oleh kebocoran pada pipa boiler, baik pada bagasse boiler maupun coal boiler.

Kebocoran itu menyebabkan nilai konduktivitas air boiler turun drastis sehingga mengganggu proses produksi.

Penghentian giling lebih awal juga berdampak pada petani tebu yang masih memiliki sisa tanaman yang belum ditebang.

 

Untuk membantu petani, PT GMM berupaya menjalin koordinasi dengan sejumlah pabrik gula lain agar tebu petani Blora tetap dapat digiling.

Beberapa pabrik yang didatangi di antaranya PG Lamongan milik PT Kebun Tebu Mas serta PG Trangkil milik PT Kebon Agung.

Selain itu, PT GMM juga memberikan layanan gratis berupa penggunaan crane dan jembatan timbang untuk membantu proses langsir tebu dari truk kecil ke truk tronton.

Memasuki tahun 2026, manajemen PT GMM tengah menyusun strategi perbaikan menyeluruh terhadap mesin pabrik.

Namun rencana tersebut belum dapat segera dilaksanakan karena kondisi keuangan perusahaan yang masih mengalami defisit.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengatakan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan para pemegang saham untuk mendapatkan dukungan perbaikan mesin.

“Saat ini PT GMM sudah melakukan komunikasi dengan Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera untuk meminta bantuan dalam perbaikan mesin,” ujarnya, Kamis (24/3/2026).

Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Blora serta berbagai pihak lainnya.

Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, mengungkapkan bahwa jajaran Pemerintah Kabupaten Blora bersama pimpinan DPRD, pengurus APTRI, Serikat Pekerja GMM, dan direksi perusahaan telah melakukan audiensi dengan Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, di Jakarta pada 21 Januari 2026.

“Pertemuan tersebut mendapatkan respons positif terkait rencana perbaikan GMM tahun ini, namun persetujuan bantuan masih dalam proses,” kata Krisna.

Ia berharap PG Blora dapat kembali beroperasi pada tahun 2026 karena keberadaan pabrik tersebut memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat.

Menurutnya, lebih dari 250 petani tebu, sekitar 600 karyawan, serta lebih dari 1.000 tenaga tebang angkut dan sopir truk menggantungkan aktivitas ekonomi pada operasional pabrik tersebut.

“Selain itu toko, warung makan, dan berbagai kegiatan ekonomi di sekitar pabrik juga ikut bergerak ketika pabrik beroperasi,” ujarnya.

Manajemen PT GMM menyatakan tetap optimistis pabrik gula tersebut dapat kembali bangkit.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Blora, Ketua DPRD Blora, APTRI, Serikat Pekerja GMM, dan seluruh masyarakat yang terus membantu. Kita harus terus bergandeng tangan untuk menghidupkan kembali pabrik gula kebanggaan masyarakat Blora ini,” kata Sri Emilia.

Editor : Tata Rahmanta

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut