GUNUNGKIDUL, iNewsboyolali.id - Ratusan kader dan relawan Partai Golkar Kabupaten Gunungkidul menggelar doa bersama sekaligus menyampaikan aspirasi terkait keprihatinan mereka terhadap dinamika internal partai pada Jumat (30/10/2026). Para kader dari berbagai kapanewon ini menyoroti belum terlaksananya Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Gunungkidul yang berlarut-larut.
Acara doa bersama yang digelar mendadak tersebut ditujukan untuk mengenang almarhum Gandung Pardiman, sosok pejuang, guru, dan pembimbing yang dinilai telah mencurahkan pikiran, tenaga, hingga harta demi membesarkan Partai Golkar di Bumi Handayani. Momentum kepergian almarhum dimanfaatkan kader untuk menegaskan kembali tanggung jawab menjaga keberlangsungan organisasi.
Pimpinan Golkar Kapanewon Ponjong, Supriyono, mengungkapkan keprihatinannya karena belum dilaksanakannya Musda Golkar Gunungkidul. Padahal, Musda merupakan agenda rutin lima tahunan sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
"Musda Golkar Gunungkidul sempat dijadwalkan pada 8 November 2025. Namun, hingga akhir Oktober 2026 ini, agenda tersebut belum juga terlaksana," ujar Supriyono.
Menurutnya, agenda partai ini sudah digelar di empat kabupaten/kota lain di DIY. Satu-satunya yang belum melaksanakan tinggal di Gunungkidul. Ketidakjelasan jadwal Musda ini berdampak langsung terhadap konsolidasi dan pengelolaan organisasi serta berisiko mengganggu soliditas kader di tingkat daerah.
“Pengurus harus memegang teguh aturan organisasi, khususnya Bab XV Pasal 75 AD/ART Partai Golkar, serta menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan kelompok atau individu,” ujarnya.
Hadir dalam pertemuan ini, sejumlah tokoh senior Golkar Gunungkidul seperti Parno, Sukadi, Jumiran, dan Slamet. Mereka mengimbau seluruh kader tetap menjaga kebersamaan dan mengedepankan aturan partai agar roda organisasi dapat berjalan secara jelas dan terarah.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
