Takut Tak Kebagian,Warga Rela Nangtri Berhari-Hari dan Berebut Air Bersih dari Perhutani KPH Telawah

Rustaman Nusantara
Warga Berebut Air Bersih Yang Dibagikan Oleh Perhutan KPH Telawah, Boyolali. Foto: iNews

GROBOGAN, iNewsBoyolali.id – Kekeringan ekstrem membuat warga desa hutan di perbatasan Kabupaten Grobogan dan Boyolali, Jawa Tengah, harus berjuang keras mendapatkan air bersih.

Puluhan warga bahkan rela meninggalkan pekerjaan dan menunggu berjam-jam di sekitar bak penampungan demi mendapatkan air bantuan. Begitu truk tangki tiba, warga langsung berdesakan dan berebut mengisi jerigen serta galon.

Pemandangan tersebut terlihat di Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, Grobogan. Warga yang telah menunggu sejak berjam-jam sebelumnya langsung menyerbu bak penampungan setelah air bersih dituangkan dari truk tangki.

Ratusan jerigen dan galon yang telah ditata di sekitar bak kemudian diisi satu per satu. Sejumlah warga bahkan terlihat berlari membawa wadah air agar tidak tertinggal dan tetap mendapatkan bagian.

Kondisi tersebut terjadi lantaran sumber air di desa mereka telah mengering.

Suwanto, warga Desa Ketro, mengatakan kekeringan telah berlangsung sekitar enam bulan. Namun, kondisi paling parah dirasakan warga sejak empat bulan terakhir.

"Semua sumber mata air dan sumur sudah mongering. Sudah hamper empat bulan ini terparah. Warga hanya mengandalkan bantuan droping air. Ini bap penampungan dibuat warga di setiap dusun supaya jika sewaktu-waktu ada bantuan bis langsung ditampung disini," ujar Suwanto.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membeli air. Satu tangki air bersih dihargai sekitar Rp160 ribu dan hanya mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga selama kurang lebih tiga hari.

“ Pernha sehari tidak ada truk tangka yang datang jadi kita terpaksa beli seharga serratus enam puluh per tanki,” pungkasnya.

 

Rela Tinggalkan Pekerjaan Demi Air

Kondisi serupa dialami Surati, warga Desa Ketro yang sehari-hari bekerja di ladang. Ia mengaku rela meninggalkan pekerjaan yang belum selesai untuk menunggu di sekitar bak penampungan. Surati khawatir tidak mendapatkan air apabila meninggalkan lokasi.

Setiap mendapat informasi adanya bantuan air bersih, ia bersama warga lainnya langsung berkumpul dan menunggu kedatangan truk tangki. Perasaan lega bercampur senang dirasakan warga ketika truk tangki akhirnya tiba. Mereka langsung berebut mengisi jerigen dan galon yang telah disiapkan.

“ Saya kerja di ladang dan sawah kalu pagi siang jam 9 keatas saya nunggu disini kalau ada bantuan air. Gimana gak rebutan, warga begitu semangat berebut air dan sama-sama takut tidak kebagian, jadi ya nggak ya kita rebutan tapi itu asyik . saya ucapkan terima kasih perhutan KPH telawah yang sudah berbagi dengan warga, “ ucap Surati.

Krisis air bersih juga dirasakan warga desa hutan di wilayah perbatasan Grobogan dan Boyolali. Di Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, warga juga harus menunggu bantuan air bersih akibat sumber air yang mengering selama musim kemarau ekstrem. Seperti yang dilakukan Windi setiap harinya.

“ Saat ini warga mengandalkan bantuan air bersih. Selama ini kita ambil air di hutan dan itu pun belum tentu dapat karena airnya sudah mengecil,” kata Windi.

Editor : Tata Rahmanta

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network