Selain membeli air, sebagian warga masih berusaha mendapatkan air dari sumber yang berada di tengah kawasan hutan. Mereka harus berjalan melewati pematang sawah dan kawasan hutan untuk mencapai sumber air tersebut.
Namun, debit air yang tersisa kini sangat kecil. Sumber tersebut tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan ratusan warga. Akibatnya, warga harus bergantian mendapatkan air. Untuk memperoleh satu jerigen, mereka bahkan harus mengantre selama tiga hingga lima hari.
Kondisi ini menunjukkan betapa beratnya dampak kekeringan yang dirasakan warga desa hutan di Grobogan.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat meningkatkan distribusi air bersih selama musim kemarau, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi hingga hujan kembali turun.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
