GROBOGAN,iNewsBoyolali.id-Permasalahan sampah rumah tangga yang selama ini dibuang atau dibakar sembarangan, kini mulai teratasi berkat kreativitas sekelompok pemuda di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mugiwara, sampah yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran lingkungan kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Melihat antusiasme warga, Kepala Desa Tanjungrejo, Rasiman, memberikan dukungan penuh dengan meminjamkan lahan pribadinya sebagai lokasi pengumpulan, pemilahan, dan pengelolaan sampah. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi kebiasaan warga membuang sampah sembarangan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
“Seneng sekali melihat anak-anak muda desa Tanjungrejo yang kreatif dan mandiri. Jadi untu ini saya ikut membantu menfasilitasi dalam pengelolaan sampah. Saya kasih tempat untuk mengolah sampah dan itu tanah saya pribadi bukan tanah desa,” ungkap Rasiman.
Setiap pekan, para petugas KSM Mugiwara berkeliling mengambil sampah dari rumah-rumah warga. Sampah yang telah dikemas dalam tong atau kantong sampah diangkut menggunakan mobil pikap menuju lokasi pengelolaan yang berada jauh dari kawasan permukiman.
Di lokasi tersebut, sampah dipilah berdasarkan jenisnya, yakni organik dan nonorganik. Sampah nonorganik seperti plastik, botol, dan kardus dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul. Hasil penjualannya kemudian dimanfaatkan sebagai kas organisasi guna mendukung operasional kelompok.
Sementara itu, sampah organik seperti sisa makanan diolah menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi menggunakan tong khusus dan bahan pendukung yang menghasilkan bakteri serta mikroorganisme pengurai. Produk ini diharapkan dapat menjadi alternatif pupuk ramah lingkungan bagi para petani.
Warga Tanjungrejo, Wirosari SUlap Sampah Organik Menjadi Pupuk Cair.
“Sampah-sampah yang dikumpulkan ini akan kita pilah-pilah dan kita manfaatkan semua jadi tidak kata tidak berguna. Untk non organik kita kumpulkan dan jual. Uangnya masuk ke khas sementara yang organik kita olah menjadi pupuk cair dan prosesnya juga lumayan lama antara tiga bulanan,” kata Hasan.
“Dulu awalnya kita sangat prihatin melihat sampah dibuang sembarangan jadi kita punya inisiatif untuk membantu membuang sampah warga agar tidak repot-repot dan bingung membuangnya,” imbuhnya.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
