BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Di tengah anggapan bahwa pekerjaan mengurus ternak identik dengan kaum pria dan kurang diminati anak muda, seorang perempuan Gen Z asal Kabupaten Boyolali justru sukses menekuni bisnis jual beli sapi kurban. Menjelang Idul Adha 2026, ia bahkan mampu menjual hampir 600 ekor sapi dengan menawarkan konsep unik berupa “hotel sapi”.
Sosok tersebut adalah Wanda Julisna, warga Desa Brajan, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah. Perempuan muda itu tampak cekatan mengurus ratusan sapi di kandangnya setiap hari.
Wanda mengaku sudah mengenal dunia peternakan sejak kecil. Namun, dirinya mulai terjun langsung mengelola usaha keluarga pada 2021 dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi penjualan sapi.
“Kalau saya sebenarnya sudah dari kecil, tapi untuk terjun langsungnya dari 2021. Saya membantu promosi lewat media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook,” ujar Wanda Sabtu (23/5/2026)
Menurutnya, tidak ada rasa malu ataupun risih meski harus berkutat di kandang sapi setiap hari. Sebab, ia sadar usaha ternak menjadi sumber penghidupan keluarganya.
“Alhamdulillah enggak risih, karena saya tahu rezeki keluarga saya dari sapi. Kebetulan saya anak pertama dan di rumah cewek semua, jadi mau enggak mau harus terjun langsung,” katanya.
Ketekunan Wanda dalam mengelola usaha ternak juga membuahkan hasil. Dari bisnis sapi tersebut, ia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana agribisnis. Usaha peternakan yang dijalankannya pun bukan sekadar bisnis musiman menjelang Idul Adha, melainkan aktivitas rutin sepanjang tahun.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, kandang milik Wanda kini ramai didatangi pembeli dari berbagai daerah. Untuk memudahkan pelanggan, Wanda menawarkan konsep “hotel sapi”, yakni layanan penitipan hewan kurban hingga mendekati hari penyembelihan.
Dengan konsep itu, pembeli tidak perlu repot membawa pulang sapi jauh-jauh hari. Selama dititipkan di kandang, seluruh perawatan hingga vaksinasi hewan dijamin oleh pihak peternakan agar kondisi sapi tetap sehat dan layak kurban.
Salah seorang pelanggan, Triyani, mengaku sudah menjadi langganan selama hampir sembilan tahun karena kualitas sapi yang dinilai baik.
“Dagingnya banyak dan lemaknya sedikit. Pelayanannya juga bagus. Saya sudah langganan hampir sembilan tahun di sini,” ujarnya.
Wanda mengatakan, sapi jenis Madura masih menjadi primadona pembeli dalam lima tahun terakhir. Selain harganya lebih ekonomis, kualitas daging sapi Madura dinilai lebih kesat, minim lemak, dan berwarna merah segar.
Meski harga sapi mengalami kenaikan sekitar Rp2 juta per ekor akibat keterbatasan stok di tingkat peternak, minat masyarakat tetap tinggi. Tahun ini, pembeli lebih banyak mencari sapi dengan harga ekonomis di kisaran Rp23 juta hingga Rp24 juta per ekor.
“Penjualan tahun ini alhamdulillah hampir mencapai 600 ekor. Untuk tahun ini memang lebih banyak peminat sapi harga ekonomis di kisaran Rp23 sampai Rp24 juta,” kata Wanda.
Berbekal ilmu agribisnis dan strategi promosi melalui media sosial, penjualan sapi di kandang Wanda terus meningkat setiap tahun. Kisahnya menjadi bukti bahwa generasi muda mampu meraih kesuksesan melalui usaha peternakan dengan ketekunan dan kerja keras.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
