KULONPROGO, iNewsboyolali.id - Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo menggelar festival Langen Carito yang digelar di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo, 12-13 April lalu. Pertunjukkan ini menarik untuk diikuti karena menampilkan anak-anak SD dalam bermain gamelan, Nembang sebagai bagian upaya pelestarian nilai seni dan budaya Jawa.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Joko Mursito mengatakan, Langen Carito merupakan opera tradisional berbahasa Jawa yang biasanya mengangkat kisah pewayangan atau legenda klasik. Namun mereka menampilkan dengan wajah baru agar lebih menarik ditonton tanpa mengurangi esensi dan nilai-nilai yang ada di dalamnya.
Gelaran kali ini tampil dengan wajah baru dengan mengusung tema lingkungan. Hal ini disesuaikan dengan kondisi yang ada di masyarakat dengan banyaknya banjir, tanah longsor, persoalan sampah dan beberapa pernak-pernik di belakangnya.
“Tahun ini mulai bergeser ke ranah edukasi sosial, khususnya mengenai pelestarian alam dan lingkungan, sampah hingga bencana alam,” katanya.
Inovasi tema ini bertujuan agar seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat modern. Langen Carito bukan sekadar gerak dan tari, tapi media dialog antara tradisi dan realitas lingkungan kita saat ini.
Secara teknis, Langen Carito memiliki karakteristik yang unik dibandingkan jenis pertunjukan Jawa lainnya. Sebab seluruh dialog atau dikenal dengan ontowacono menggunakan bahasa Jawa dengan intonasi khasnya.
Selain itu penuturan cerita didukung dengan vokal lagu, yang tidak sekadar kata-kata dalam tembang yang kaku. Kini lebih dinamis dan mudah dicerna oleh anak-anak.
“Perlombaan ini antar kecamatan. Nanti pemenang akan mewakili Kulonprogo untuk tampil di tingkat DIY,” katanya.
Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan menyambut positif kegiatan ini. Gelaran seperti ini menjadi bagian vital dari upaya pelestarian nilai-nilai budaya. Ada kekhawatiran jika pengenalan budaya asli tidak digencarkan sejak dini kepada siswa SD, maka identitas lokal akan hilang tergerus zaman.
“Kegiatan seperti ini untuk mengenali akar budaya, suka dan mau nguri-nguru agar tetap relevan,” katanya.
Selain sebagai wadah kreativitas, keikutsertaan para penari dan aktor cilik ini juga memberikan keuntungan praktis. Prestasi dan partisipasi siswa dalam ajang seni budaya ini dapat menjadi penambah poin pada sertifikat nilai, yang berguna bagi jenjang pendidikan mereka selanjutnya.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
