BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Di tengah arus modernisasi, Desa Penggung, Kecamatan Boyolali, tetap teguh menjaga warisan budaya leluhur melalui tradisi Merti Desa atau sedekah bumi yang telah berlangsung selama 176 tahun. Tradisi turun-temurun ini kembali digelar meriah dengan pagelaran wayang kulit siang dan malam yang melibatkan partisipasi penuh warga desa.
Tradisi Merti Desa Penggung berakar dari kisah leluhur ketika desa ini pernah dilanda wabah penyakit. Seorang tokoh masyarakat kala itu memindahkan lokasi desa dan bernazar akan menggelar pagelaran wayang apabila seluruh warga selamat. Nazar tersebut hingga kini terus diuri-uri sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan terhadap para pendahulu desa.
Kepala Desa Penggung, Suyamto, mengatakan tradisi Merti Desa tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga sarana memperkuat jati diri desa dan kebersamaan warga.
“Tradisi Merti Desa ini adalah wujud rasa syukur sekaligus komitmen kami untuk menjaga budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Suyamto, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, seiring perkembangan zaman, Merti Desa juga dikemas sebagai wisata budaya lokal yang mampu menggerakkan perekonomian desa. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara gotong royong, baik dari sisi pelaksanaan maupun pendanaan, dengan total anggaran swadaya masyarakat mencapai Rp 95 juta.
“Kita harus membumikan gotong royong, supaya masyarakat tidak hanya terpaku pada dana desa, tetapi benar-benar berpartisipasi mengumpulkan dana masyarakat dalam rangka melanjutkan pembangunan yang ada,” tegasnya.
Puncak Merti Desa dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit siang hari dengan lakon Sri Mulih, serta pagelaran wayang kulit malam hari dengan lakon Bima Bungkus, yang dimainkan oleh Dalang Tantut Sutanto. Selain itu, sepanjang jalan Desa Penggung juga dipadati bazar pasar murah yang melibatkan UMKM lokal maupun dari luar desa.
Suyamto menegaskan, pelestarian budaya ini sejalan dengan visi pembangunan desa. “Misi Desa Penggung adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan kerja keras dan cerdas, untuk mewujudkan masyarakat Desa Penggung yang maju, mandiri, demokratis, dan sejahtera,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Merti Desa, Tri Haryanto, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Minggu dengan kerja bakti membersihkan lingkungan RW 7 hingga RW 11. Pada Senin pagi digelar karawitan anak-anak SD, dilanjutkan malam harinya karawitan warga yang melibatkan bapak-bapak Desa Penggung.
“Pagi ini juga dilaksanakan ritual di Kepunden, sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh dan leluhur Desa Penggung,” jelas Tri Haryanto.
Melalui Merti Desa, Desa Penggung membuktikan bahwa kemajuan desa dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi dan nilai-nilai budaya lokal.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
