Manajemen keuangan yang rapi menjadi kunci kelancaran produksi, mulai dari anggaran aktor, lokasi, hingga departemen teknis lainnya.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menegaskan sektor ekonomi kreatif, terutama film, membutuhkan dukungan perbankan yang lebih relevan. Sejak 2014, Amar Bank menjadi pionir bank digital di Indonesia dengan fokus 60 persen portofolionya pada UMKM.
“Tahun ini kami melihat industri film semakin meningkat. Talenta bagus, tapi pengelolaan keuangannya masih menjadi masalah. Banyak yang bertanya apakah portofolio mereka bisa dikelola lewat Amar Bank, dan dari situ kami keluarkan Amar Bank Bisnis,” ujarnya.
Aplikasi ini dikenalkan di JAFF Market 2025 sebagai solusi perbankan untuk pelaku industri kecil menengah, khususnya film. Fitur-fitur yang disediakan dirancang untuk membantu pembuat film dalam pencatatan transaksi dan pengelolaan proyek.
Amar Bank menawarkan dua solusi utama: pendanaan dan pengelolaan keuangan. Bank ini menganalisis kondisi finansial setiap proyek, kapasitas pembayaran, hingga potensi pendapatan. Tidak hanya untuk PH, tetapi juga artis, penyedia peralatan, dan pekerja profesional lain dalam ekosistem film.
“Kami sudah menangani dua film. Kami masuk ke pasar yang belum dimasuki bank konvensional. Tahun 2025, pasar ekonomi kreatif besar, pemainnya banyak dan solid, tapi belum ada bank yang benar-benar masuk,” kata Josua.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
