Keluarga Miskin di Grobogan Dicoret dari Bansos, Rumah Reyot dan Hanya Mengandalkan Jualan Mi Ayam
GROBOGAN, iNewsBoyolali.id – Nasib memprihatinkan dialami keluarga Mualim dan Nurul Khotimah, warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Keluarga yang mengaku hidup serba kekurangan tersebut kini tidak lagi menerima bantuan sosial dari pemerintah setelah namanya tercoret dari daftar penerima manfaat.
Nurul mengaku sebelumnya keluarganya tercatat sebagai penerima bantuan sosial. Namun, sejak awal 2025, bantuan tersebut tiba-tiba berhenti.
“Saya baru tiga kali menerima bantuan. Setelah itu sejak awal 2025 sudah tidak menerima lagi sampai sekarang,” ujar Nurul.

Nurul kemudian mempertanyakan penghentian bantuan tersebut kepada petugas kecamatan. Dari hasil pengecekan data, nama suaminya, Mualim, tercatat masuk dalam kategori desil lima sehingga tidak lagi masuk kriteria penerima bantuan sosial.
“Saya tanyakan ke Petugasnya katanya sudah tidak dapat lagi, bantuan sekolah anak juga tidak dapat hanya BPNT itu saja,” ulasnya.
Ironisnya, penghentian bantuan itu terjadi ketika Nurul tengah berjuang melahirkan anak keduanya di salah satu rumah sakit di Purwodadi pada awal 2025. Namun, bayi yang dilahirkannya tersebut akhirnya meninggal dunia.
Nurul mengaku keluarganya telah terdaftar sebagai penerima manfaat sejak 2020. Ia berharap pemerintah kembali melakukan verifikasi terhadap kondisi keluarganya agar bantuan dapat diberikan kepada warga yang benar-benar membutuhkan.
Sementara itu, Mirza, Koordinator PKH Kecamatan Wirosari, menjelaskan bahwa perubahan status penerima bantuan dilakukan berdasarkan pemutakhiran data. Menurutnya, keluarga Mualim dan Nurul tercatat dalam desil lima serta ditemukan adanya data nama ganda.
“Setetelah data atas nama Nurul Khotimah itu ada data yang tercatat ganda, sehingga menyebabkan bantuan dihentikan dan tidak menerima lagi,” jelas Mirza.
Pihak kecamatan juga menemukan adanya data nama ganda dalam daftar penerima manfaat keluarga tersebut.
Namun, kondisi keluarga tersebut di lapangan terlihat cukup memprihatinkan. Rumah yang mereka tempati tampak mengalami kerusakan di sejumlah bagian. Beberapa struktur bangunan terlihat keropos, berlubang, miring, bahkan nyaris ambruk.
Kondisi ekonomi keluarga juga tergolong terbatas. Mualim dan Nurul sehari-hari mengandalkan penghasilan dari berjualan mi ayam. Penghasilan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Mereka mengaku belum mampu memperbaiki rumah karena keterbatasan biaya. Kondisi tersebut membuat keluarga berharap adanya pengecekan dan pemutakhiran data kembali dari pemerintah.
Mereka berharap status penerima bantuan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan sehingga program bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.
Editor: Tata Rahmanta