Cadangan Air Hujan dan Sumber Air Kering, Warga Desa Hutan Manfaatkan Doping Air Perhutani
Melihat kondisi warga yang semakin kesulitan, Perhutani KPH Gundih mengerahkan delapan tangki air bersih untuk didistribusikan ke sejumlah dusun di Desa Jambon yang mengalami kekeringan paling parah.
Wakil Administratur KPH Gundih, Yulianto, mengatakan distribusi air dilakukan karena sebagian besar wilayah Desa Jambon berada di kawasan hutan yang sumber airnya terdampak kekeringan.
“ Ini Adalah bentuk kepedulian Perhutani KPH Gundih kepada Masyarakat di Kawasan hutan Gundih, biar bisamemperingan beban mereka. Saat ini kita kirim sepuluh tangki ke desa hutan dan nantinya kita akan terus memantau dan membantu warga agar kecukupan air bersih,” jelas Yulianto, Waka ADM KPH Gundih.
Bantuan tersebut disambut antusias oleh warga. Mereka berharap droping air bersih dapat terus dilakukan selama musim kemarau. Pasalnya, selama dua bulan mengalami kekeringan, warga mengaku baru dua kali mendapatkan bantuan air bersih. Bantuan pertama berasal dari relawan, sedangkan bantuan kedua berasal dari Perhutani.
Di tengah keterbatasan bantuan, warga harus mengandalkan uang pribadi untuk membeli air.
Untuk satu tangki berkapasitas sepuluh liter, warga harus membayar sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
Beban tersebut semakin terasa karena kebutuhan air meningkat. Jika sebelumnya satu tangki air dapat digunakan selama tujuh hingga sepuluh hari, kini jumlah yang sama hanya mampu bertahan sekitar lima hari.
Warga yang mayoritas bekerja sebagai buruh pun harus menyesuaikan pembelian dengan kemampuan ekonomi. Sebagian memilih membeli air dalam jumlah lebih sedikit agar tetap mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Editor : Tata Rahmanta