get app
inews
Aa Text
Read Next : Maskawin Bak Sultan dan Anti Maenstream! Pengantin di Grobogan Dapat Ekskavator dan Dua Mobil Mewah

3 Bulan Krisis Air Bersih, Warga Grobogan Gali Dasar Sungai hingga Gunakan Air Bau Bacin

Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:37 WIB
header img
Warga Desa Ketro Berburu dan Mengais Genangan Air Sungai Yang keruh dan Bau Bacin. Foto: iNews

GROBOGAN, iNewsBoyolali.id– Krisis air bersih membuat ratusan kepala keluarga di Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, harus berjuang keras mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Selama tiga bulan terakhir, warga terpaksa menggali dasar sungai yang telah mengering demi mendapatkan sedikit air. Ironisnya, air yang keluar dari dalam tanah berwarna keruh dan mengeluarkan bau bacin. Seperti yang diungkapkan Haryanti, ia selalu mengabil air bacin ini meski harus menahan rasa gatal.

“Gimana lagi adanya air comberan kaya gini, ya kita endapkan dulu tapi kalau keburu perlu langsung dipakai begitu saja,” celoteh Haryanti


Warga Mengantri dan mengais Air Keruh Dan Bau.

Meski demikian, kondisi tersebut terpaksa diterima warga. Mereka menggunakan air hasil resapan sungai untuk mandi, mencuci pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

“ Bau sih dan tidak bisa hilang setelah dipakai airnya. Saya kalau nyuci pagi sekali disini biar dapat air yang banyak dan cukup untuk mencuci,” kata Bu Trimo.

Pemandangan warga menggali dasar sungai kini menjadi hal biasa di Desa Ketro. Mereka mencari titik-titik tanah yang masih mengeluarkan air, terutama di bawah rumpun bambu. 

Warga membuat lubang resapan atau belik untuk menampung air yang keluar perlahan dari dalam tanah. Setelah terkumpul, air kemudian disedot menggunakan pompa dan dialirkan menuju rumah melalui pipa paralon.

Sekilas air hasil resapan tersebut tampak lebih jernih. Namun, bau bacin masih cukup menyengat.

Salah seorang warga, Haryanti, mengaku kerap merasakan gatal setelah menggunakan air tersebut. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain karena seluruh sumber air di sekitar permukiman mulai mengering.

Dalam sehari, Haryanti harus mengantre untuk mendapatkan tiga hingga lima jeriken air. Jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam waktu singkat.

“Pagi ngantri jerigen disini sore baru bisa diambil airnya, sehari hanya tiga jerigen atau air galon. Dan cukup untuk sehari saja,”tambah Haryanti.

Kondisi lebih sulit dialami Suwardi. Ia harus berpindah-pindah lokasi untuk menemukan titik resapan baru. Bahkan, ketika air semakin sulit ditemukan, ia terpaksa menggali tanah hingga kedalaman sekitar dua meter.

“ Ini sumbernya sudah kering dan saya gali lagi lebih dalam sampai dua meter, itu air habis harus nunggu besok lagi kita sedot, kalau dipaksa air akan keruh dan tidak bisa mengalir,” ucap Suwardi.


Warga Menuangkan Air Keruh Ke Dalam Jerigen.

Air yang terkumpul kemudian dipompa menuju rumah. Namun, hasilnya sangat terbatas. Setelah mendapatkan sekitar empat ember, air kembali habis.

Suwardi harus menunggu hingga sehari semalam agar air kembali meresap dan dapat diambil.

Warga lainnya juga memanfaatkan sumber air tersebut untuk mencuci pakaian. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan dan semakin parah seiring menyusutnya sumber air.

Warga memperkirakan genangan air yang tersisa di dasar sungai tersebut hanya mampu bertahan sekitar tiga hingga tujuh hari ke depan.

Jika kembali mengering, warga terpaksa mencari sumber air lain hingga ke kawasan hutan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman.

Untuk mendapatkan air dari hutan, warga harus mengantre sejak pagi. Bahkan, sebagian warga baru mendapatkan giliran mengambil air pada sore hingga malam hari.


Warga Berburu Air Sungai Yang Keruh.

Selama ini, warga sebenarnya mengandalkan pasokan air PDAM. Namun, pasokan air juga ikut terhenti selama berbulan-bulan akibat kekeringan.

Sementara untuk kebutuhan makan dan minum, warga terpaksa membeli air mineral. Kondisi tersebut membuat pengeluaran rumah tangga semakin bertambah.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi krisis air bersih ini. Mereka meminta adanya bantuan droping air bersih secara rutin agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.

Warga tidak ingin terus menggali dasar sungai dan menggunakan air keruh serta berbau bacin hanya untuk bertahan hidup di tengah krisis air bersih yang belum kunjung berakhir.

 

Editor : Tata Rahmanta

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut