Suhu Merbabu Turun Minus 1 Derajat, Embun Beku Muncul dan Pendaki Diingatkan Waspada Hipotermia
BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Suhu udara di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu anjlok hingga minus 1 derajat Celsius, memicu munculnya embun beku (frost) di jalur pendakian.
Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengingatkan para pendaki agar tidak mengabaikan risiko hipotermia akibat cuaca ekstrem selama musim kemarau.
Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, mengatakan suhu tersebut tercatat pada Jumat (10/7/2026) pukul 05.30 WIB di kawasan Pos Sabana 1. Pemantauan dilakukan bersama mahasiswa magang Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Surakarta menggunakan termometer dan higrometer.
"Pada 9 Juli 2026 pukul 20.00 WIB suhu tercatat 6 derajat Celsius. Kemudian pada 10 Juli pukul 05.30 WIB turun menjadi minus 1 derajat Celsius dengan kelembapan 46 persen, lalu naik menjadi 3 derajat Celsius pada pukul 06.00 WIB," kata Anggit dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).
Menurut Anggit, penurunan suhu tersebut merupakan dampak fenomena bediding, yaitu kondisi udara yang terasa jauh lebih dingin saat puncak musim kemarau. Fenomena ini merupakan siklus alam yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 dan telah menyebabkan embun beku mulai terlihat di kawasan pendakian Gunung Merbabu.
"Kondisi dingin yang ekstrem pada malam hingga dini hari ini berpotensi tinggi memicu hipotermia bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan dengan matang," ujarnya.
BTNGMb mengimbau seluruh pendaki membawa perlengkapan yang memadai, seperti pakaian hangat berlapis, pakaian cadangan yang kering, serta memastikan kondisi tubuh tetap fit sebelum melakukan pendakian.
Pendaki juga diminta mengenali gejala awal hipotermia, antara lain menggigil terus-menerus, bibir dan ujung jari membiru, sulit berkonsentrasi, bicara pelo, tubuh lemas, hingga mengantuk berat.
"Apabila gejala tersebut mulai muncul, jangan memaksakan melanjutkan perjalanan. Segera cari tempat yang terlindung dari angin, ganti pakaian basah, hangatkan tubuh secara bertahap, dan laporkan kepada petugas jika kondisi tidak membaik," katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BTNGMb telah menyiapkan Shelter Emergency di Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting. Fasilitas tersebut dilengkapi listrik tenaga surya, penerangan, CCTV, Wi-Fi, serta penangkal petir untuk penanganan awal pendaki yang mengalami kondisi darurat sebelum dievakuasi.
Anggit menegaskan keindahan langit cerah saat musim kemarau tidak boleh membuat pendaki lengah terhadap ancaman suhu ekstrem.
Editor : Tata Rahmanta