Krisis Murid, SD Negeri di Boyolali Hanya Dapat 1 Siswa Baru
BOYOLALI, iNews Boyolali.id – Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026 diwarnai kondisi memprihatinkan di sejumlah sekolah dasar negeri di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Salah satunya terjadi di SD Negeri Cepokosawit 2, Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, yang tahun ini hanya menerima satu siswa baru kelas I.
Satu-satunya siswa baru tersebut bernama Khanza. Kondisi ini membuat proses belajar mengajar di kelas I hanya diikuti seorang murid bersama gurunya.
Guru kelas I SD Negeri Cepokosawit 2, Andriyani Mudrikah, mengatakan pihak sekolah sebenarnya telah berupaya maksimal untuk menjaring peserta didik baru. Selain melakukan sosialisasi, para guru juga mendatangi taman kanak-kanak hingga melakukan pendekatan dari rumah ke rumah.
"Kami sudah berusaha mencari calon siswa dengan mendatangi TK-TK dan melakukan jemput bola ke rumah-rumah warga. Namun tahun ini kami hanya mendapatkan satu siswa baru," ujarnya, Senin (13/7/2026).
Menurut Andriyani, minimnya jumlah siswa dipengaruhi menurunnya jumlah anak usia sekolah dasar di wilayah tersebut. Lulusan TK setempat tahun ini hanya empat anak. Dari jumlah itu, sebagian memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah berbasis agama dengan sistem full day.
"Jumlah anak usia sekolah memang semakin sedikit. Selain itu, sebagian orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah full day berbasis agama," katanya.
Saat ini, total siswa SD Negeri Cepokosawit 2 dari kelas I hingga kelas VI hanya berjumlah 25 orang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, membenarkan fenomena berkurangnya jumlah peserta didik baru tidak hanya terjadi di SD, tetapi juga di sejumlah SMP negeri.
"Pada tahun ajaran 2026 ini memang banyak sekolah negeri yang menerima siswa baru dalam jumlah sedikit. Tidak hanya SD, tetapi juga SMP. Hanya beberapa sekolah yang jumlah siswanya terpenuhi," ujarnya.
Dia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi menurunnya angka kelahiran serta perubahan pilihan masyarakat, terutama dari kalangan menengah, yang lebih banyak menyekolahkan anak ke sekolah berbasis agama dengan sistem full day.
"Masyarakat kini memiliki banyak pilihan sekolah. Fenomena ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah siswa di sekolah negeri," ucapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali mulai menyiapkan kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah yang kekurangan siswa. Langkah itu dinilai menjadi solusi agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif, meski konsekuensinya sebagian siswa harus menempuh jarak yang lebih jauh menuju sekolah.
Editor : Tata Rahmanta