Ekstrim! Bertahun-tahun BAB di Hutan, Kini Warga Ngrandu Bisa Bernafas Lega
GROBOGAN, iNewsBoyolali.id – Puluhan warga yang tinggal di kawasan hutan Desa Ngrandu, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, akhirnya dapat menikmati fasilitas jamban yang layak setelah bertahun-tahun hidup tanpa sanitasi memadai. Selama puluhan tahun, mereka terpaksa buang air besar (BAB) di hutan maupun sungai karena keterbatasan ekonomi yang membuat mereka tidak mampu membangun jamban sendiri.
Setiap hari, warga harus berjalan menyusuri jalan setapak menuju kawasan hutan atau sungai yang berada di belakang permukiman. Kondisi tersebut tetap mereka lakukan meski hujan deras mengguyur atau malam telah larut. Aktivitas yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi perjuangan yang penuh risiko.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Melalui bantuan pembangunan jamban dari Perhutani KPH Gundih, sejumlah keluarga yang selama ini belum memiliki fasilitas sanitasi akhirnya bisa menggunakan jamban di rumah sendiri dengan aman dan nyaman.
Salah satu penerima bantuan adalah Mbah Wonten, perempuan berusia sekitar 86 tahun yang tinggal seorang diri di rumahnya. Karena usia yang sudah lanjut dan kondisi fisik yang melemah, setiap kali hendak buang air besar ia harus meminta bantuan anak atau cucunya untuk mengantarnya menuju hutan atau sungai.
Ia mengaku sangat bersyukur setelah rumahnya mendapatkan bantuan jamban. Kini dirinya tidak lagi bergantung kepada keluarga hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
"Alhamdulillah sekarang sudah punya jamban sendiri. Saya bisa BAB sendiri tanpa merepotkan anak cucu. Jambannya juga nyaman dan bisa sekalian dipakai mandi," ujarnya dengan wajah sumringah.
Kisah serupa dialami Martoyo, warga Desa Ngrandu yang sehari-hari bekerja sebagai tukang las. Keterbatasan penghasilan membuat impiannya memiliki jamban sendiri harus tertunda selama bertahun-tahun.
Selama ini, Martoyo bersama keluarganya terpaksa menumpang menggunakan jamban milik adiknya yang rumahnya bersebelahan.
"Sejak dulu ingin punya WC sendiri, tetapi hasil kerja hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Saya tidak menyangka akhirnya impian itu terwujud berkat bantuan dari pemerintah dan Perhutani KPH Gundih," katanya.
Kepala Desa Ngrandu, Paiman, mengatakan persoalan sanitasi menjadi salah satu keluhan utama warga di wilayah hutan. Banyak keluarga yang belum memiliki jamban sehingga harus berjalan cukup jauh menuju hutan atau sungai setiap kali hendak buang air besar.
“Kasihan warga jika saat BAB harus jalan ke hutan atau sungai. Dan keluhan ini sdah lama disampaikan ke saya tapi baru terpenuhi sekarang dan kita prioritaskan dulu ke warga yan benar-benar tidak mampu atau jompo,” ucap Kades Paiman.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan lingkungan.
"Selama ini warga harus membawa air sendiri dari rumah menuju hutan atau sungai. Kalau hujan deras mereka sering kesulitan, tetapi tetap nekat karena memang tidak ada pilihan lain. Karena itu kami berupaya mencari bantuan agar warga bisa memiliki jamban sendiri," jelas Paiman.
Ia menambahkan, pembangunan jamban dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan warga miskin yang benar-benar belum memiliki fasilitas sanitasi.
Sementara itu, Kepala Seksi Keuangan, SDM, Umum, dan IT Perhutani KPH Gundih, Jumeno, mengaku prihatin karena masih banyak warga di kawasan hutan yang belum memiliki akses sanitasi layak. Karena itu, Perhutani menggulirkan program bantuan jambanisasi sebagai bagian dari kepedulian terhadap masyarakat sekitar hutan.
Menurut Jumeno, program tersebut tidak hanya bertujuan membantu masyarakat kurang mampu, tetapi juga mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mengurangi kebiasaan buang air besar sembarangan.
"Dalam setahun ini kami telah menyalurkan bantuan jambanisasi kepada warga kurang mampu di kawasan hutan. Kami berharap masyarakat bisa hidup lebih sehat dan terbebas dari kebiasaan buang air besar sembarangan," ujarnya.
Pada bulan ini, Perhutani KPH Gundih kembali menyalurkan bantuan pembangunan enam unit jamban melalui pemerintah desa. Setelah proses pembangunan selesai, tim Perhutani akan turun langsung melakukan pengecekan untuk memastikan bantuan benar-benar dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
“Setelah nanti jamban selesai di bangun, akan saya cek langsung ke lokasi apakah benar-benar sudah layak dan memenuhi standar kesehatan,pungkasnya.
Bagi warga Desa Ngrandu, keberadaan jamban bukan sekadar pembangunan fisik. Fasilitas sederhana tersebut menjadi simbol perubahan kualitas hidup. Mereka kini tidak lagi harus berjalan ke hutan atau sungai, tidak lagi khawatir saat malam tiba atau hujan mengguyur, dan dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih sehat, aman, serta bermartabat.
Program bantuan sanitasi ini diharapkan dapat terus berlanjut sehingga seluruh warga di kawasan hutan yang belum memiliki jamban dapat segera menikmati fasilitas yang sama dan terbebas dari praktik buang air besar sembarangan.
Editor : Tata Rahmanta