Sebagian besar warga di sekitar Waduk Cengklik selama ini bekerja sebagai nelayan keramba. Karena itu, bercocok tanam di lahan waduk yang surut menjadi pekerjaan sampingan ketika kondisi air memungkinkan.
Berbagai tanaman seperti padi, palawija dan kacang-kacangan ditanam di lahan yang sebelumnya berada di bawah permukaan air.
Namun, warga menyadari lahan tersebut hanya bisa dimanfaatkan sementara. Ketika musim hujan tiba dan volume air waduk kembali meningkat, tanaman yang masih berada di lahan tersebut berpotensi terendam.
"Iya, ini setiap tahun biasanya tanam padi, palawija, kacang. Setahun bisa tanam satu sampai dua kali, tidak bisa lebih. Kalau air naik lagi ya sudah ditinggal saja," jelas petani, Suprianto.
Untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, warga menggunakan mesin pompa. Sisa air yang berada di bagian tengah waduk disedot dan dialirkan menuju lahan pertanian.
Warga pun berharap musim kemarau berlangsung cukup panjang agar lahan yang muncul akibat surutnya Waduk Cengklik masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tambahan pendapatan
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
