BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Musim kemarau membuat debit air Waduk Cengklik di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyusut hingga sekitar 50 persen.
Kondisi tersebut dimanfaatkan warga untuk mengolah lahan yang sebelumnya terendam air menjadi area pertanian. Sejumlah warga menanam padi, jagung, kacang-kacangan hingga berbagai jenis palawija.
Penurunan elevasi air Waduk Cengklik telah terjadi selama kurang lebih lima bulan. Saat air menyusut, sejumlah bagian tepian waduk mulai mengering dan tanah terlihat merekah.
Perahu nelayan keramba yang biasanya berada di tepian waduk juga tampak bersandar di area yang mulai mengering. Di beberapa titik, ikan-ikan kecil ditemukan mati akibat berkurangnya volume air.
Warga menyebut penyusutan air berlangsung secara bertahap. Kini, genangan air lebih banyak tersisa di bagian tengah waduk, sedangkan sejumlah area lainnya telah berubah menjadi lahan kering.
"Ya tinggal yang itu, yang di utara pulau itu tinggal sedikit airnya. Surutnya ini paling ya tinggal sepertiga paling," kata Suparno pada Senin (28/9/2026) siang.
Lahan yang muncul akibat surutnya air waduk kemudian dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Bagi mereka, kondisi tersebut bukan hal baru karena lahan serupa kembali dapat digunakan setiap kali musim kemarau berlangsung cukup panjang.
Salah satunya dilakukan Yati. Selama musim kemarau, dia bersama warga lainnya menanam padi di lahan pinggir waduk yang mengering.
Menurut Yati, masa tanam berlangsung sekitar tiga bulan. Jika kondisi air memungkinkan, lahan tersebut bahkan dapat dimanfaatkan untuk dua kali tanam dan panen dalam setahun.
"Ya sekitar tiga bulanan di kemarau ini. Dalam setahun bisa dua kali tanam, dua kali panen. Kalau air naik ya tidak apa-apa, nanti metiknya pakai rakit," ujar Yati.
Sebagian besar warga di sekitar Waduk Cengklik selama ini bekerja sebagai nelayan keramba. Karena itu, bercocok tanam di lahan waduk yang surut menjadi pekerjaan sampingan ketika kondisi air memungkinkan.
Berbagai tanaman seperti padi, palawija dan kacang-kacangan ditanam di lahan yang sebelumnya berada di bawah permukaan air.
Namun, warga menyadari lahan tersebut hanya bisa dimanfaatkan sementara. Ketika musim hujan tiba dan volume air waduk kembali meningkat, tanaman yang masih berada di lahan tersebut berpotensi terendam.
"Iya, ini setiap tahun biasanya tanam padi, palawija, kacang. Setahun bisa tanam satu sampai dua kali, tidak bisa lebih. Kalau air naik lagi ya sudah ditinggal saja," jelas petani, Suprianto.
Untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, warga menggunakan mesin pompa. Sisa air yang berada di bagian tengah waduk disedot dan dialirkan menuju lahan pertanian.
Warga pun berharap musim kemarau berlangsung cukup panjang agar lahan yang muncul akibat surutnya Waduk Cengklik masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tambahan pendapatan
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
