BOYOLALI, iNewsBoyolali.id — Kemarau panjang membuat warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengalami krisis air bersih. Warga bahkan harus masuk ke kawasan hutan milik Perhutani untuk mencari sumber air yang masih tersedia.
Untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan kaki sejauh satu hingga dua kilometer menyusuri jalan setapak dengan kondisi terjal dan naik turun.
Sejumlah warga terlihat membawa galon bekas dan ember saat menyusuri kawasan hutan Perhutani, Rabu sore. Mereka menuju sebuah sumur yang hingga kini masih memiliki persediaan air yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air dari sumur tersebut digunakan warga untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, minum, mencuci hingga mandi.
Salah seorang warga, Adiyanto, mengatakan kondisi kekurangan air bersih sudah dirasakan selama sekitar dua bulan terakhir. Sumur-sumur milik warga mengering akibat kemarau panjang.
"Sudah sekitar dua bulan ini kesulitan air bersih. Sumur-sumur warga sudah banyak yang kering," ujar Adiyanto, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, sumur yang berada di kawasan hutan Perhutani menjadi salah satu sumber air yang masih bisa diandalkan warga.
"Kalau mau mendapatkan air, kami harus masuk ke hutan. Jaraknya sekitar satu sampai dua kilometer," katanya.
Adiyanto mengaku hampir setiap hari mengambil air dari sumur tersebut, terutama pada pagi dan sore hari.
"Setiap pagi dan sore saya mengambil air di sini, airnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, minum, mencuci, dan mandi," ujarnya.
Meski pemerintah telah memberikan bantuan distribusi air bersih, menurut Adiyanto, droping air tidak dilakukan setiap hari. Sementara kebutuhan air warga berlangsung setiap hari.
"Memang ada bantuan droping air, tetapi tidak setiap hari, tapi kebutuhan air kan setiap hari, jadi kami tetap harus mengambil air ke dalam hutan," tuturnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan bantuan droping air, tetapi juga membangun sarana air bersih yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
"Kondisi seperti ini hampir setiap tahun terjadi saat musim kemarau sampai musim hujan datang."
"Kami berharap ada solusi permanen, misalnya dibuatkan sumur bor, supaya saat kemarau warga tidak lagi kesulitan mencari air," harapnya.
Sementara itu, Plt Kepala BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo mengatakan sejumlah wilayah di bagian utara Boyolali masih menjadi perhatian karena terdampak kekeringan.
Wilayah tersebut di antaranya Kecamatan Wonosegoro, Wonosamodro, dan Juwangi.
"Untuk wilayah yang menjadi perhatian kami di bagian utara antara lain Wonosegoro, Wonosamodro, dan Juwangi," kata Ari.
BPBD Boyolali hingga kini masih melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.
Berdasarkan data BPBD Boyolali, total air bersih yang telah didistribusikan kepada warga mencapai lebih dari dua juta liter.
"Droping air bersih sampai saat ini masih terus kami lakukan. Total air yang sudah kami distribusikan lebih dari dua juta liter," jelasnya.»
Warga berharap pemerintah segera membangun sumur bor di wilayah yang rawan kekeringan. Dengan adanya sumber air permanen, warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan hingga dua kilometer ke dalam hutan setiap kali musim kemarau panjang melanda.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
