Menurut Anggit, penurunan suhu tersebut merupakan dampak fenomena bediding, yaitu kondisi udara yang terasa jauh lebih dingin saat puncak musim kemarau. Fenomena ini merupakan siklus alam yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 dan telah menyebabkan embun beku mulai terlihat di kawasan pendakian Gunung Merbabu.
"Kondisi dingin yang ekstrem pada malam hingga dini hari ini berpotensi tinggi memicu hipotermia bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan dengan matang," ujarnya.
BTNGMb mengimbau seluruh pendaki membawa perlengkapan yang memadai, seperti pakaian hangat berlapis, pakaian cadangan yang kering, serta memastikan kondisi tubuh tetap fit sebelum melakukan pendakian.
Pendaki juga diminta mengenali gejala awal hipotermia, antara lain menggigil terus-menerus, bibir dan ujung jari membiru, sulit berkonsentrasi, bicara pelo, tubuh lemas, hingga mengantuk berat.
"Apabila gejala tersebut mulai muncul, jangan memaksakan melanjutkan perjalanan. Segera cari tempat yang terlindung dari angin, ganti pakaian basah, hangatkan tubuh secara bertahap, dan laporkan kepada petugas jika kondisi tidak membaik," katanya.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
