Antrean Haji Indonesia Tembus 5,5 Juta Orang, Rata-Rata Tunggu 26 Tahun

Ary Wahyu Wibowo
Sekretaris BPKH, Ahmad Zaky memberikan keterangan pers di sela-sela acara BPKH Connect di Kota Solo, Sabtu (21/2/2026). (Foto: Istimewa).

SOLO, iNewsBoyolali.id - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menyatakan jemaah tunggu saat ini mencapai 5,5 juta. Rata-rata masa tunggu jemaah untuk diberangkatkan ke Tanah Suci mencapai 26 tahun.

Sekretaris BPKH, Ahmad Zaky mengemukakan bahwa penyebab lamanya masa tunggu karena kuota haji terbatas, yaitu 1:1000 dari jumlah penduduk. Indonesia mendapatkan kuota per tahun sekitar 221.000. 

Profil jemaah tunggu umur 0-40 tahun sebesar 24,28 persen. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, didominasi perempuan yang mencapai 54,5 persen. Artinya, jemaah tunggu perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Jumlah perempuan lebih banyak karena posisinya sebagai pengelola keuangan di dalam keluarga.

"Dari pekerjaan, 24,72 persen merupakan karyawan swasta, 24,0 persen ibu rumah tangga, 15,14 persen PNS, dan 36,14 persen merupakan petani, pengusaha, dan lainnya," kata Ahmad Zaky saat acara BPKH Connect di Kota Solo, Sabtu (21/2/2026). 

Lebih jauh diungkapkan, masa tunggu jemaah lama karena sudah diputuskan oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI).

"Jemaah tunggu ini di sistem negara berbeda-beda. Ada model di Mesir itu qurah/undian, dan beberapa negara sudah diputuskan oleh OKI. Kuota haji ditentukan 1:1000 jumlah penduduk," terangnya. 

Dicontohkan, Malaysia dengan jumlah penduduk mencapai 30 juta, sehingga kuota haji yang diterima sekitar 31.600 dengan masa tunggu mencapai 149 tahun.

"Dengan model seperti itu, beberapa negara seperti Malaysia dan Indonesia dikumpulin mereka, boleh daftar nanti antrean dan dapat nomor porsi dan akan berangkat nanti. Tapi beberapa lain menggunakan model undian. Jadi dia dapat undian melunasi," ucapnya. 

Model yang diterapkan di Indonesia dan Malaysia terhadap masa tunggu jemaah haji, ditiru beberapa negara. Dana haji yang dihimpun dapat dikelola dengan baik. Beberapa negara lain belajar pengalaman Malaysia dan Indonesia. Sebab dianggap bisa menghimpun dana dan bisa memberikan imbal hasil yang cukup besar untuk dikelola. 

Editor : Tata Rahmanta

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network