GROBOGAN,iNewsBoyolali.id – Wakil Bupati Grobogan, Sugeng Prasetyo, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Grobogan, menutup sementara operasional dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Gubug. Penutupan dilakukan setelah ditemukan sejumlah pelanggaran serius terkait Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) dan fasilitas penunjang yang dinilai tidak memenuhi standar pengelolaan MBG.
Penutupan tersebut dilakukan usai sidak yang digelar pada Minggu siang di dua SPPG milik Udin yang berlokasi di Desa Kwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dalam sidak tersebut, Sugeng Prasetyo terlihat emosi saat melihat langsung kondisi IPAL yang memprihatinkan.
Satgas MBG menemukan dua lubang IPAL dalam kondisi terbuka tanpa penutup yang memunculkan aroma busuk menyengat. Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya karena berpotensi menjadi sumber berkembangnya bakteri dan mencemari lingkungan sekitar, termasuk makanan yang diproduksi.
Tidak hanya IPAL, Sugeng juga menegur keras pemilik SPPG saat memeriksa sejumlah fasilitas lain di dalam gedung. Menurutnya, kondisi SPPG tersebut sama sekali tidak layak untuk beroperasi.
“SPPG ini tidak memenuhi standar dan sangat berisiko. Untuk sementara operasional kami hentikan sampai seluruh fasilitas dan IPAL diperbaiki sesuai ketentuan,” tegas Sugeng Prasetyo.
Penutupan dilakukan bersama tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang turut serta dalam sidak. Operasional baru akan diizinkan kembali setelah seluruh temuan diperbaiki dan dinyatakan memenuhi standar kelayakan.
Sidak ini dilakukan menyusul peristiwa keracunan massal menu MBG yang dikategorikan sebagai kejadian luar biasa. Berdasarkan data Pemerintah Daerah Grobogan, sekitar 500 siswa dan santri dari delapan sekolah di Kecamatan Gubug menjadi korban. Dua sekolah di antaranya merupakan lembaga pendidikan milik Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda di Desa Ngroto.
Jumlah korban terbanyak terjadi di Pondok Pesantren Miftahul Huda dengan total 244 santri putra dan putri serta tujuh guru. Hingga Minggu siang, sebanyak 37 korban masih menjalani perawatan inap di sejumlah puskesmas dan rumah sakit.
Sugeng memastikan seluruh biaya pengobatan korban keracunan MBG akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak Badan Gizi Nasional.
Sementara itu, jumlah korban terus bertambah. Sejak Sabtu malam, sebanyak 25 pasien dirujuk ke RSUD dr Soedjati Purwodadi karena kapasitas RSUD Getas Pendowo Gubug telah melebihi daya tampung. Pasien lainnya dialihkan ke beberapa puskesmas rawat inap.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan, keracunan diduga berasal dari menu nasi kuning bersantan yang sudah berbau dan kemungkinan disimpan selama beberapa hari sebelum dimasak kembali. Selain itu, bau busuk dari tandon IPAL diduga mempercepat pertumbuhan bakteri yang berpotensi menempel pada makanan.
Pemerintah daerah memastikan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG akan diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
