Kemarau Ekstrem, Perajin Batu Bata Blora Harus Ambil Air Sejauh 2 Kilometer
BLORA, iNewsBlora.id – Musim kemarau ekstrem tak hanya membuat warga Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Sejumlah pengrajin batu bata merah juga ikut terdampak karena membutuhkan air untuk mengolah tanah sebagai bahan baku batu bata.
Kondisi tersebut dirasakan para perajin batu bata di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Blora. Mereka bahkan harus mengambil air dari sebuah sumur sendang yang berjarak hampir 2 kilometer dari lokasi produksi.
Untuk memenuhi kebutuhan air, para perajin menggunakan sepeda motor dan membawa tiga jeriken setiap kali mengambil air.
Air tersebut digunakan untuk membasahi tanah yang menjadi bahan baku batu bata. Kemarau panjang membuat kondisi tanah semakin keras sehingga membutuhkan lebih banyak air agar bisa dilembekkan dan dicetak.
Salah seorang perajin batu bata merah, Sarmidi, mengaku kondisi tersebut cukup menyulitkan aktivitas produksinya. Ia bersama istrinya harus bekerja ekstra untuk mendapatkan air sekaligus mempertahankan produksi batu bata.
Meski terkendala air, Sarmidi masih mampu mencetak sedikitnya 700 batu bata merah per hari.
Namun, kemarau ternyata juga membawa keuntungan bagi pengrajin batu bata. Cuaca panas membuat proses pengeringan batu bata lebih cepat dibandingkan saat musim hujan.
"Kalau musim kemarau memang air sulit, tapi untuk pengeringan batu bata lebih cepat," ujar Sarmidi.
Batu bata hasil produksi Sarmidi biasanya langsung diambil oleh toko bangunan maupun pengepul. Dalam sekali proses pembakaran, ia mampu menghasilkan sekitar 13 ribu batu bata merah siap jual.
Bagi para perajin, kondisi tersebut menjadi dilema. Di satu sisi, kemarau membuat pasokan air untuk produksi semakin sulit. Namun di sisi lain, cuaca panas justru mempercepat proses pengeringan sehingga produksi tetap bisa berjalan, dan hasil produksinya lebih baik dibandingkan musim penhujan.
Editor: Tata Rahmanta