Siswa SMKN 1 Bantul Rizky Sulaiman Sulap Hobi Reptil Jadi Bisnis Beromzet Jutaan Rupiah
YOGYAKARTA, iNewsboyolali.id - Pelajar SMKN Negeri 1 Bantul, Rizky Sulaiman sukses membangun bisnis jual beli reptil dan satwa eksotis. Siapa sangka hobi yang dikembangkan mampu menghasilkan transaksi jutaan rupiah.
Keberhasilan Rizky tak lepas dari kejeliannya melihat peluang saat pandemi COVID-19 pada tahun 2022 lalu. Saat masyarakat mencari alternatif hobi di rumah, ia mulai menawarkan berbagai jenis hewan peliharaan, seperti musang, hewan amfibi, hingga beragam spesies reptil. Saluran pemasaran yang dipilih menggunakan platform media sosial seperti TikTok, Facebook, dan Instagram, jangkauan pasarnya terus meluas.
Menurut Rizky, dinamika pasar satwa eksotis sangat bergantung pada tren spesies yang sedang populer. Saart ini permintaan kura-kura berukuran kecil melonjak signifikan.
"Tren pasar sangat tergantung spesies. Akhir-akhir ini permintaan kura-kura ukuran kecil sedang tinggi. Saya bahkan pernah memasok hingga 100 ekor ke reseller dengan nilai transaksi mencapai Rp8 jutaan," kata Rizky, disela mengikuti Inkubasi Bisnis di JTTC Yogyakarta, Senin (28/9/2026).
Meski usahanya sempat berjalan secara otodidak, lompatan besar bisnis Rizky terjadi setelah ia mengikuti program Wirausaha Kawula MUda yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY bersama BHMTC Indonesia. Keikutsertaannya dalam program ini mampu membuka matanya akan pentingnya tata kelola usaha.
“Sebelumnya ada kendala pada pencatatan keuangan, dan pelayanan pelanggan. Melalui evaluasi berkala dan tugas-tugas praktis, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pembuatan konten dan pembukuan terpisah, usahanya kini jauh lebih rapi dan profesional,” katanya.
Kisah sukses bisnis setelah mengikuti program ini juga dirasakan Nisa Fatin Afifah melalui Speak Garden. Alumni MMTC mendirikan lembaga pelatihan public speaking di Pundong, Bantul, yang berawal dari pengalamannya sebagai MC, pendongeng, dan pengajar ekstrakurikuler.
Setelah meraih Juara Harapan 1 di tingkat kabupaten dan mengikuti pendampingan inkubasi Pemda DIY, Nisa berhasil memantapkan tata kelola bisnis Speak Garden. Kini lembaga tersebut membuka pelatihan online eksklusif MC dan moderator untuk 8–15 peserta, serta program privat offline.
“Ada paket Rp350.000 selama 3 jam untuk persiapan sidang skripsi, presentasi lomba, hingga pidato. Speak Garden juga menyediakan kelas reguler 5 kali pertemuan dengan harga promo Rp199.000,” katanya.
Pendamping inkubasi, Agung Chandra, menjelaskan bahwa program ini dirancang dalam tiga tahap intensif untuk mematangkan bisnis anak muda agar lebih stabil (settle) serta mampu mengombinasikan sistem operasional online dan offline. Pada tahap awal inkubasi, peserta ditanamkan pola pikir (mindset) pengusaha yang berani mengalokasikan anggaran untuk penguatan branding media sosial. Agung menekankan bahwa promosi media sosial dan konten yang menarik adalah kunci agar usaha tidak hanya dikenal di lingkungan sekolah, tetapi bisa menjangkau pasar nasional.
Memasuki tahap ketiga inkubasi, para peserta disiapkan untuk menghadapi sesi pitching di hadapan calon investor. Dari 30 peserta inkubasi tingkat DIY, sebanyak 10 peserta terbaik berkesempatan meraih suntikan bantuan modal usaha sebesar Rp10 juta dari Pemda DIY.
Pendamping Program sekaligus CEO BHMTC Indonesia, Bio Hadikesuma mengatakan, program ini menjadi bagian dari ekosistem kewirausahaan. Program ini tidak akan berhenti setelah pendidikan usai, namun berlanjut untuk terus hidup dan berkembang.
“Sistem inkubasi ini menjadi bkti pendekatan berbasis data, kolaborasi akan menjawab kebutuhan pengembangan wirausaha muda di DIY,” katanya.
Editor: Tata Rahmanta