Diskop UKM DIY Gelar Inkubasi Saka Wirausaha, 60 Pelajar Ditempa Jadi Startup
SLEMAN, iNewsboyolali.id - Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) DIY bersama Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) membuka Program Inkubasi Saka Kewirausahaan DIY Tahun Ketiga di Bumi Perkemahan Turi, Sleman, Rabu (22/7/2026). Sebanyak 60 pelajar digempleng menjadi wirausaha yang tanggung agar bisa menjadi startup.
Pengembang Wirausaha Muda Diskop UKM DIY, Ratna Listiyani, mengatakan, inkubasi ini menjadi tahapan penting untuk menguji kesiapan mental, pola pikir, serta komitmen peserta. Mereka akan diproyeksikan ke tingkat inkubasi startup yang memiliki tantangan lebih kompleks.
“Sebelum masuk ke inkubasi startup, kami ingin melihat mindset kewirausahaannya sudah benar-benar tertanam dan usahanya sudah sustain atau belum,” ujar Ratna.
Proses seleksi dan kompetisi dilakukan secara ketat dan terbuka. Dinas menyiapkan bentuk apresiasi bagi para peserta sebagai modal usaha mereka ke depan.
Pengurus Saka Kewirausahaan, Bio Hadikesuma, mengungkapkan bahwa program inkubasi kali ini memadukan dua konsep utama, yaitu orientasi pengenalan Saka Kewirausahaan dan inkubasi usaha. Tahun ini menggunakan skema tahunan berdasarkan evaluasi bersama Pimpinan Saka (Pin Saka) tingkat kabupaten/kota.
“Ke depan inkubasi dibuat per dua tahun. Tahun depan kita akan fokus bagaimana mengaktifkan lagi Saka Kewirausahaan di daerah-daerah," jelas Bio.
Langkah adaptif dan interaktif ini diambil untuk menjawab tantangan rekrutmen anggota di daerah sekaligus menggeser persepsi umum terhadap gerakan Pramuka. Melalui kegiatan ini, peserta dibekali keterampilan praktis yang teruji dan berpotensi mendatangkan pendapatan secara nyata.
Program inkubasi tahun ketiga ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari siswa SMA/SMK hingga mahasiswa. Komposisinya terbagi seimbang, yakni 50 persen anggota Saka Kewirausahaan dan 50 persen Tamu Saka (calon anggota).
Selama kegiatan perkemahan dilakukan secara outdoor melalui sistem pos pengembaraan. Setiap peserta dibekali buku saku keterampilan khusus untuk menyelesaikan berbagai tantangan dan berkonsultasi langsung dengan mentor.
Setelah tahapan perkemahan, peserta akan menjalani masa pendampingan mandiri selama dua bulan. Selanjutnya akan ada seleksi tahap kedua untuk menentukan 30 peserta terbaik.
"Bagi yang lanjut ke tahap berikutnya, mereka akan mendapatkan skema pembinaan berbasis kontingen daerah," katanya.
Editor : Tata Rahmanta