get app
inews
Aa Text
Read Next : Kunjungi Ponpes di Boyolali, Wapres Gibran Disambut Meriah hingga Bagikan Bantuan untuk Warga

FK UNS dan PERHATI-KL Solo Kenalkan Skrining Terpadu Kesehatan Anak di Boyolali

Senin, 20 Juli 2026 | 10:12 WIB
header img
Tim dokter dari FK UNS bersama PERHATI-KL Cabang Solo memeriksa kondisi teling siswa di Sobokerto, Ngemplak, Boyolali, Minggu (19/7/2026). (Foto: Istimewa).

BOYOLALI, iNewsBoyolali – Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (PERHATI-KL) Cabang Solo memperkenalkan model skrining kesehatan anak terpadu melalui program One Stop Multidisciplinary Pediatric Airway, Hearing and Development Screening (OSPAHS).

Kegiatan tersebut dikenalkan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SD Negeri 1 Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Minggu (19/7/2026).

Mengusung tema "Healthy Sleep, Healthy Hearing, Healthy Future", program OSPAHS mengintegrasikan pemeriksaan gangguan tidur, pendengaran, serta tumbuh kembang anak dalam satu kali kunjungan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Program ini hadir sebagai upaya meningkatkan deteksi dini terhadap gangguan tidur, gangguan pendengaran, dan keterlambatan tumbuh kembang yang selama ini kerap terlambat diketahui. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar, perkembangan bahasa, perilaku, hingga kualitas hidup anak jika tidak ditangani sejak dini.

Dalam pelaksanaannya, siswa menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari skrining risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA) menggunakan Pediatric Sleep Questionnaire, pemeriksaan telinga dan pendengaran, pemeriksaan hidung dan tonsil, penilaian status gizi dan tumbuh kembang, skrining neurologis dan perilaku, evaluasi sistem pernapasan, pemeriksaan kelainan kraniofasial, penilaian jalan napas, hingga pemeriksaan radiologi bila diperlukan.

Seluruh hasil pemeriksaan kemudian dianalisis secara terpadu untuk menentukan tingkat risiko masing-masing anak sekaligus menyusun rekomendasi tindak lanjut maupun rujukan sesuai kebutuhan.

Ketua PERHATI-KL Cabang Solo sekaligus dosen FK UNS, Dr. dr. Hadi Sudrajat, mengatakan tim dokter spesialis THT-BKL juga memberikan layanan pemeriksaan telinga, tindakan aural toilet sesuai indikasi medis, serta konsultasi kesehatan telinga kepada para siswa.

"Pelayanan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan telinga sejak dini sekaligus mendorong deteksi dini gangguan pendengaran yang sering tidak disadari," ujarnya.

Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Leni Aprilia, menjelaskan masih banyak anak yang baru mendapat penanganan setelah gangguan tidur maupun pendengaran berdampak pada prestasi belajar dan kemampuan komunikasi.

"Melalui model OSPAHS, berbagai faktor risiko dapat dievaluasi secara komprehensif dalam satu kunjungan. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan mampu mempercepat deteksi dini, meningkatkan ketepatan rujukan, sekaligus memberikan pelayanan yang lebih efektif bagi anak usia sekolah," katanya.

Menurutnya, konsep pelayanan terpadu tersebut juga memudahkan keluarga karena berbagai pemeriksaan yang saling berkaitan dapat dilakukan di satu lokasi tanpa harus berpindah ke sejumlah fasilitas kesehatan.

Program OSPAHS dikembangkan oleh Program Studi Ilmu Kesehatan THT-BKL FK UNS bersama sejumlah bidang keilmuan, di antaranya Neurologi, Ilmu Kesehatan Anak, Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Radiologi, Anestesiologi, serta Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik.

Selain memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, program ini juga menghasilkan model skrining terpadu, standar operasional prosedur (SOP), booklet dan video edukasi, sistem rujukan multidisiplin, hingga publikasi ilmiah yang diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan layanan kesehatan sekolah di berbagai daerah.

Sementara itu, dokter spesialis anestesi RSUD Dr. Moewardi, dr. Septian Adik Permana, Sp.An, mengatakan keterlibatan tim anestesi difokuskan pada skrining risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gangguan henti napas saat tidur yang sering ditandai kebiasaan mendengkur pada anak.

"Program ini sangat baik karena sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi emas Indonesia. Salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada anak. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengganggu proses pertumbuhan fisik maupun perkembangan otak," ujarnya.

Ia menjelaskan, tim anestesi melakukan penilaian risiko OSA untuk menentukan apakah anak memerlukan penanganan lebih lanjut, termasuk kemungkinan tindakan operasi oleh dokter THT.

"Sering kali orang tua hanya melihat anak mendengkur lalu tiba-tiba terdiam beberapa saat saat tidur. Padahal, jeda itu bisa menandakan anak berhenti bernapas sementara. Karena itu, skrining sejak awal sangat penting agar tindakan medis berikutnya dapat direncanakan dengan aman dan tepat," pungkasnya.

Editor : Tata Rahmanta

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut