Tinjau Bencana di Pantura, Kepala BNPB Letjen Suharyanto Pastikan Penanganan Maksimal
SEMARANG, iNewsboyolali.id - Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengunjungi Kabupaten Pati, Kudus, Jepara dan Demak untuk memantau kondisi bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Jumat (16-17/1/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana memastikan penanganan bencana di sejumlah kawasan di Jateng maksimal seperti di daerah lain.
“Pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain, termasuk dalam penanggulangan bencana. Begitu terjadi bencana kami langsung turun ke lokasi,” kata dia.
Berbagai strategi strategis terus dilakukan BNB untuk mengantisipasi bencana. Mulai dari memodifikasi cuaca hingga normalisasi sungai.
Dalam kunjungan ini, Kepala BNPB berdialog dengan masyarakat terdampak bencana. Mereka tidak ada yang mengeluhkan kebutuhan dasar.
"Artinya, kebutuhan dasar terjamin, tetapi mereka meminta normalisasi Sungai Juwana supaya bencana serupa tidak terjadi di kemudian hari," kata dia.
Menurut Suharyanto bencana banjir di Jawa Tengah selalu terjadi setiap tahun lantaran daya dukung lingkungan sudah berubah. Pemerintah selalu berupaya memperbaiki sarana yang ada.
Normalisasi Sungai Juwana, akan menjadi upaya jangka menengah dan jangka panjangnya. Untuk solusi jangka pendek, operasi modifikasi cuaca sudah dilakukan sesuai arahan dari BMKG.
“Modifikasi cuaca diharapkan mampu mengurangi curah hujan yang turun secara signifikan. Metode ini membuat debit air hujan berkurang, sehingga banjir juga tidak makin bertambah besar,” katanya.
Kepala BNPB memastikan kebutuhan dasar pengungsi akan dipenuhi dengan baik. Bantuan kebutuhan dasar meliputi kebutuhan dasar makan, minum, pakaian, tempat tinggal sementara, alat pembersih, kebutuhan pakaian dan sebagainya, bakal disediakan.
Dalam kunjungan di Kabupaten Jepara, Suharyanto meninjau bencana banjir dan tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara dengan mengendarai sepeda motor trail sejauh 7 kilometer. Perjalanan itu ditempuh untuk mengunjungi rumah warga yang rusak parah akibat terjangan banjir.
Di Desa Tempur, ada delapan rumah yang rusak, 13 KK yang terdampak langsung karena rumahnya rusak, dua yang sakit, dan tidak ada yang meninggal dunia.
“Kalau sudah terjadi bencana, apalagi rumahnya tadi sudah kena batu. Itu mau tidak mau, suka tidak suka (harus) direlokasi," kata Suharyanto.
Ada dua yakni relokasi yang ditentukan oleh pemerintah atau relokasi mandiri oleh warga terdampak dengan bantuan pemerintah. Lahan untuk relokasi segera disiapkan dan nanti BNPB yang akan membangun rumahnya. Pemkab juga mmeiliki Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang bisa dipakai.
Bupati Pati, Sudewo, menyampaikan, total ada 136 desa di 12 Kecamatan di Kabupaten Pati yang mengalami banjir. Lebih dari 70 ribu orang terdampak dan 2 orang meninggal dunia karena hanyut.
Status tanggap darurat bencana sudah ditetapkan pada tanggal 10-24 Januari 2026. Banjir terjadi karena curah hujan yang tinggi hingga saat ini dan pendangkalan sungai.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Sri Wulan, mengapresiasi gerak cepat BNPB untuk turun langsung ke masyarakat dalam menangani bencana yang terjadi, termasuk di Kabupaten Kudus, Jepara, Pati, dan Demak.
Editor : Tata Rahmanta