Tokoh masyarakat setempat, Marjono, menjelaskan tradisi ini merupakan wujud syukur warga atas rezeki yang diperoleh, khususnya dari sektor peternakan dan pertanian.
“Dimulai dari memandikan ternak, memberi wewangian, mengalungkan ketupat, lalu kenduri dan diarak keliling kampung. Ini bentuk rasa syukur warga,” jelasnya.
Dia juga mengungkapkan, ketupat dalam tradisi tersebut memiliki filosofi Jawa “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, yang mencerminkan sikap rendah hati dan saling memaafkan.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
