YOGYAKARTA, iNewsboyolali.id - Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam isu lingkungan melalui penyelenggaraan Workshop Pengolahan Sampah CircuLife–SLI 2025 Batch ke-3 bertajuk Community-Driven Waste Management and Circular Economy in Yogyakarta, Rabu (7/1/2026). Mereka mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Workshop ini menghadirkan sejumlah praktisi yang telah berpengalaman dalam pengolahan sampah, khususnya plastik dan minyak jelantah. Pada sesi awal, Ilham Zulfa Pradipta, dari Jogja Life Cycle memaparkan dinamika pengelolaan sampah plastik di Indonesia, mulai dari proses produksi hingga dampaknya terhadap lingkungan.
Menurutnya, plastik melewati tahapan panjang, mulai dari ekstraksi bahan baku, pembentukan polimer, hingga distribusi dan penggunaan oleh masyarakat. Beragam jenis plastik seperti PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, dan PS menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, namun juga menyumbang timbulan sampah yang signifikan.
“Plastik menjadi tantangan besar karena sulit terurai di alam, berpotensi menjadi mikroplastik, dan mengandung zat kimia yang berisiko bagi kesehatan serta lingkungan,” jelas Ilham.
Sebagai langkah solusi dengan menerapkan konsep recycling, downcycling, dan upcycling dalam pengelolaan sampah plastik. Upcycling memiliki potensi paling besar karena mampu meningkatkan nilai tambah produk hasil olahan. Konsep ini telah dijalankan oleh Jogja Life Cycle sejak 2021 melalui Lab RINDU (Rumah Inovasi Daur Ulang) PIAT UGM.
Saat ini, Jogja Life Cycle bekerja sama dengan 13 bank sampah di Kelurahan Giwangan, dua pengepul, dua sekolah dasar, serta berbagai komunitas, sekaligus mengembangkan usaha pencacahan plastik sebagai bagian dari rantai ekonomi sirkular.
Sementara Maria Ratih dari Dadio Home yang membahas pengelolaan limbah minyak jelantah. Menurutnya, pembuangan minyak jelantah secara sembarangan dapat mencemari lingkungan dan sistem drainase. Melalui Dadio Home, minyak jelantah diolah menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun, yang tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga membuka peluang usaha skala rumah tangga.
“Minyak jelantah bukan lagi limbah, bisa diolah dan memiliki nilai ekonomi,” tutur Maria.
Koordinator Proyek CircuLife–SLI 2025, Rima Amalia Eka Widya, berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengelola sampah secara berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung penguatan ekonomi sirkular dan pembangunan lingkungan berbasis komunitas.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
