get app
inews
Aa Text
Read Next : DPRD DIY Usulkan Gelar Pahlawan Nasional bagi Anggota TNI yang Gugur di Lebanon

Napak Tilas Perjuangan Bung Karno di Pengasingan, DPRD DIY: Batasan Fisik Tak Halangi Nasionalisme

Minggu, 14 Juni 2026 | 14:06 WIB
header img
Rumah Pengasingan Bung Karno yang ada di Bengkulu. (Foto: Kuntadi).

YOGYAKARTA, iNewsboyolali.id - Semangat nasionalisme tidak boleh padam oleh keterbatasan. Pesan inilah yang dibawa pulang oleh jajaran Komisi A DPRD DIY setelah melakukan napak tilas sejarah perjuangan Proklamator RI, Soekarno, di tanah pengasingan Bengkulu

Kunjungan ini bukan sekadar pelesiran sejarah, melainkan upaya menggali penetrasi ideologi untuk menyuntikkan energi baru dalam tata kerja pemerintahan di Yogyakarta. Para wakil rakyat Yogyakarta menyusuri jejak-jejak historis di Rumah Pengasingan Bung Karno dan Rumah Ibu Fatmawati. Dua situs ini menjadi saksi bisu bagaimana sang fajar merajut asa kemerdekaan di tengah jeruji tak kasatmata kolonial Belanda.

Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Syarief Guska Laksana, menegaskan bahwa heroisme Bung Karno saat diasingkan di Bengkulu adalah teladan nyata tentang konsistensi perjuangan. Meski ruang geraknya dipersempit oleh pemerintah kolonial, pikiran dan gagasan besar Bung Karno justru lahir dan abadi lewat tulisan.

“Kunjungan ini untuk menggali nilai-nilai semangat dari perjuangan beliau. Saat diasingkan dan dibatasi ruang geraknya, beliau tetap teguh dalam pendirian dan prinsip. Bung Karno tetap menyebarkan ide-ide gagasannya dalam ruang yang terbatas,” ujar Guska, Kamis (11/6/2026).

Guska menambahkan, spirit pantang menyerah ini akan diinternalisasikan oleh DPRD DIY dalam mengawal pembangunan daerah. 

“Semangat-semangat inilah yang akan kami teladani untuk tetap menjaga Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” tegasnya.

Menelisik lebih dalam ke Rumah Pengasingan Bung Karno, atmosfer masa lalu langsung terasa. Pemandu situs, Safrida Hanum, menceritakan bahwa rumah berukuran 9x18 meter ini awalnya milik seorang warga Tionghoa yang dibangun tahun 1918, sebelum akhirnya disewa Belanda untuk mengurung Bung Karno selama empat tahun (1938-1942). Saat itu, Bung Karno menjalani pengasingan bersama istri keduanya, Inggit Garnasih.

Menariknya, Bung Karno tidak memilih meratapi nasib. Beliau justru mendirikan grup musik sandiwara (teater) yang melibatkan masyarakat lokal. Lewat panggung seni inilah takdir mempertemukannya dengan Fatmawati.

Hingga kini, rumah yang mulai direnovasi berkala sejak tahun 1985 tersebut masih mempertahankan struktur, bentuk, dan warna aslinya. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat langsung sepeda tua, kursi, meja, dan ranjang tidur hingga buku-buku bacaan berat yang menemani ruang kerjanya.

Sebuah sumur peninggalan Bung Karno yang airnya tetap tawar dan segar, padahal sumur-sumur tetangga di sekitarnya berasa payau karena lokasinya yang dekat dengan pantai. Selain itu ada masjid Jami, rumah ibadah yang arsitekturnya didesain sendiri oleh Bung Karno dan masih kokoh digunakan hingga hari ini.

Sejarawan Bengkulu, Agus Setianto, membuka lembar sejarah bahwa sebelum mendarat di Bengkulu pada 9 Mei 1938, Bung Karno diasingkan di Ende, Nusa Tenggara Timur, dalam kondisi sakit keras. Protes keras dari rekan-rekan seperjuangannya memaksa Belanda memindahkannya ke Bengkulu.

Di Bengkulu, Bung Karno menjelma menjadi sutradara kehidupan. Beliau menulis skenario, melatih peran, hingga mendesain panggung (tonil). Uniknya, karena restriksi sosial zaman itu yang menganggap tabu perempuan tampil di panggung, semua pemain teater Bung Karno adalah laki-laki.

“Pengaruh Bung Karno luar biasa. Beliau bisa mengajak siapa saja, termasuk tokoh-tokoh muda untuk dilatih cinta tanah air, baik melalui seni maupun olahraga,” ungkap Agus.

Energi perjuangan Bung Karno kian membuncah setelah ia mempersunting Fatmawati, sosok perempuan hebat yang di kemudian hari menorehkan sejarah dengan menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.

Tak jauh dari sana, Rumah Ibu Fatmawati yang kini menjadi museum masih berdiri anggun. Sepupu Fatmawati, Marwan Amanadin, memastikan keaslian situs tersebut. 

“Bentuknya dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Mesin jahit yang didatangkan dari Jakarta dan ranjangnya pun masih asli,” tutur Marwan.

Lewat napak tilas ini, Komisi A DPRD DIY berharap esensi perjuangan tanpa batas dari Bengkulu dapat bertransformasi menjadi kebijakan-kebijakan yang progresif dan berpihak pada rakyat di Yogyakarta.

Editor : Tata Rahmanta

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut