get app
inews
Aa Text
Read Next : Bukan Sekadar Bazaar, PNM Hadirkan Ruang Tumbuh UMKM di PFL 2025

Produksi Kakao Rendah, Petani Semarang Digembleng Pertanian Modern

Rabu, 22 April 2026 | 20:17 WIB
header img
Pakar Kakao menunjukkan tanaman kakao yang dikembangkan secara modern lebih cepat berbuah. (foto: istimewa)

SEMARANG, iNewsboyolali.id - Kebutuhan kakao di pasar global masih sangat terbuka. Hanya saja, produksi kakao di Indonesia stagnan dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. 

Selama ini buah kakao dijadikan bahan utama membuat cokelat. Dalam beberapa tahun ini permintaan kakao di pasar global meningkat tajam. Sementara petani kakao didominasi petani tua dengan kemampuan budidaya yang sangat terbatas. 

Menjawab tantangan ini, Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER Yogyakarta bersama CIRAD (lembaga riset Prancis) meluncurkan program INDOKAKAO. Program ini membawa misi, mengubah wajah perkebunan kakao rakyat yang selama ini identik dengan tanaman tua dan serangan hama, menjadi kebun masa depan yang berkelanjutan.

Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso mengatakan,  produktivitas kakao Indonesia saat ini hanya berkisar 0,5–0,8 ton per hektare. Produksi ini jauh dari potensi idealnya yang bisa melampaui 1,5 ton. Kendala utamanya adalah lebih dari 90% produksi bergantung pada petani kecil yang minim akses teknologi dan modal.

“Melalui program ini, petani dikenalkan dengan sistem smart agroforestry yang mengajak petani tidak hanya menanam kakao, tapi mengintegrasikannya dengan pohon pelindung dan tanaman lain,” katanya dala keterangan tertulisnya, Selasa (21/4/2026). 

Melalui program ini, petani akan dilatih dan didampingi agar inovasi benar-benar diterapkan dan berdampak pada peningkatan produktivitas. Dalam tahap awal ada 30 petani, penyuluh dan pendamping LSM yang yang dilatih di KP2 INSTIPER Ungaran. Selama empat hari mereka digembleng menjadi aktor kunci yang akan membawa ilmu agroforestry langsung ke level akar rumput.

“Pelatihan ini menghadirkan pakar dunia dari CIRAD seperti Philippe Vaast dan Olivier Sounigo, serta kolaborasi dari Bappenas hingga Puslitjkoka Indonesia,” ujarnya.

Untuk pengembangan usaha, petani dikenalkan dengan pembiayaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Mekaar. Petani perempuan diberikan akses pembiayaan sekaligus pelatihan kemandirian ekonomi.

"Para petani perempuan nasabah PNM Mekaar akan mendapatkan pelatihan yang mendukung keberlanjutan usaha mereka," ungkap Dodot Patria Ary, Sekretaris Perusahaan PNM.

Editor : Tata Rahmanta

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut