Rayakan Harlah ke-8 di Boyolali, Guru Inpassing Suarakan Harapan Diangkat PPPK
BOYOLALI, iNewsBoyolali.id – Perkumpulan Guru Inpassing Nasional (PGIN) memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-8 organisasi tersebut di Asrama Haji Donohudan (AHD), Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang penyampaian aspirasi para guru madrasah dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam peringatan tersebut, para guru inpassing menyoroti persoalan kesejahteraan dan status kepegawaian yang hingga kini belum menemui titik terang. Salah satu isu yang mencuat adalah kebijakan pengangkatan pegawai inti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Ketua PGIN, Hadi Sutikno, menyampaikan kekecewaannya atas kebijakan tersebut. Menurutnya, langkah pemerintah itu memicu kecemburuan di kalangan guru madrasah yang telah mengabdi selama puluhan tahun, namun belum juga diangkat menjadi PPPK.
Hadi menilai, secara kelembagaan, pegawai SPPG dan guru inpassing sama-sama bekerja di bawah yayasan atau lembaga swasta. Namun, perlakuan kebijakan yang diterima justru berbeda.
Ia menyebut Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan sekitar 90.000 pegawai SPPG untuk diangkat menjadi PPPK. Dari jumlah itu, sekitar 32.000 pegawai disebut telah resmi menyandang status PPPK.
“Ini tentu menimbulkan kecemburuan. Kami yang sudah lama mengajar di madrasah, terdata resmi dan memiliki SK, justru masih tertahan statusnya,” ujar Hadi.
PGIN berharap momentum tersebut dapat mendorong Kementerian Agama (Kemenag) mengambil langkah berani untuk memperjuangkan pengangkatan guru madrasah swasta, khususnya guru inpassing, menjadi PPPK.
Keluhan juga datang dari Ketua PGIN Boyolali, Fatoni Afif Fauzi. Guru madrasah sejak 2003 ini mengungkapkan bahwa gaji sebagai guru inpassing sekitar Rp2 juta per bulan belum mencukupi kebutuhan keluarga dengan empat anak yang masih bersekolah.
“untuk menambah penghasilan, saya beternak ayam petelur di rumah, kalau hanya mengandalkan gaji guru inpassing jelas tidak cukup,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rahman Velani, guru inpassing asal Sumenep, Jawa Timur. Mengabdi sejak 2001, Rahman mengaku harus berjualan gorengan sepulang mengajar demi mencukupi kebutuhan keluarga.
“seusai pulang sekolah terpaksa jualan gorengan hingga malam hari,”ungkapnya
Rahman berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih adil kepada guru madrasah. Ia menilai terdapat ketimpangan ketika pegawai SPPG yang baru bekerja sekitar satu tahun bisa diangkat PPPK, sementara guru madrasah yang telah puluhan tahun mengabdi belum mendapatkan kesempatan serupa.
Sementara itu, Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan MA/MAK Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Imam Bukhori, menyatakan pihaknya memahami keluhan para guru inpassing.
“kami terus berupaya mencari solusi terbaik agar kesejahteraan guru madrasah dapat ditingkatkan tanpa menimbulkan persoalan baru, baik dari sisi keuangan maupun kebijakan,” kata dia
Editor : Tata Rahmanta